Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) bekerjasama dengan Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR) telah menyelenggarakan International Lobster Aquaculture Symposium 2014 pada tanggal 22-25 April 2014 bertempat di Hotel Santosa – Lombok. Acara tersebut dibuka oleh Direktur Produksi Ir. Coco Kokarkin Soetrisno, M.Sc. yang mewakili Direktur Jenderal Perikanan Budidaya. Simposium tersebut dihadiri oleh konsultan ACIAR dari Australia yakni Dr. Clive Jones dan Mike Rimmer, serta narasumber Tim Peneliti ACIAR dari negara Indonesia, Australia, Vietnam dan New Caledonia. Para pakar ahli seperti Dr. Made L. Nurdjana, Dr. Ketut Sugama, perwakilan eselon I lingkup KKP, para pelaku usaha, akademisi dan stakeholder terkait dari Indonesia juga turut hadir dalam acara simposium tersebut.

Penyelenggaraan kegiatan simposium kali ini merupakan bagian dari rangkaian pelaksanaan program ACIAR. Sebagaimana diketahui bahwa dalam rangka memacu industri budidaya lobster di Indonesia, DJPB telah menjalin kerjasama dengan Pemerintahaan Australia melalui program Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR). Program tersebut telah dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama dilaksanakan pada tahun 2006-2009, sedangkan tahap dua dilaksanakan pada tahun 2011-2014.

Pelaksanaan program ACIAR bertujuan untuk meningkatkan teknik budidaya lobster dalam rangka mendukung pengembangan industri dan menyediakan alternatif lapangan kerja untuk masyarakat pesisir. Rangkaian kegiatan ACIAR yang telah dilaksanakan di Indonesia diantaranya adalah pembuatan percontohan pembudidayaan lobster di lokasi potensial, penelitian dengan pelibatan tim terpadu, publikasi, pelatihan monitoring kesehatan dan penanggulangan penyakit, penyediaan beasiswa, studi banding dan simposium.

Melalui kegiatan simposium tersebut diketahui status perkembangan budidaya lobster secara umum khususnya di Indonesia, potensi pasar, aspek teknis pembudidayaan, kendala dan tantangan. Ajang tersebut juga digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan program ACIAR yang telah berjalan serta menetapkan rekomendasi pengembangan lobster ke depan, termasuk rencana kelanjutan program ACIAR di tahun 2015.

Hasil kesimpulan dari pemaparan para narasumber dan kunjungan lapang (field trip) menginformasikan bahwa Indonesia berpeluang sebagai salahsatu produsen lobster terkemuka di dunia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Indonesia banyak memiliki potensi lokasi yang cocok untuk pengembangan lobster. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa jumlah ketersediaan benih lobster dari alam melimpah dan terus meningkat dari tahun ke tahun khususnya di pulau lombok (teluk Awang, Bumbang, Kelongkong). Permintaan pasar ekspor benih (puerulus) dan lobster hasil pembesaran juga terus meningkat, jumlah petani pengumpul benih terus bertambah, serta pengetahuan dan keterampilan petani juga meningkat seiring dengan pelaksanaan program ACIAR.

Namun demikian, perkembangan budidaya lobster di Indonesia juga masih dihadapkan pada beberapa kendala yang perlu segera dicarikan jalan keluarnya. Kendala yang dihadapi diantaranya adalah: hatchery belum berkembang optimal sehingga benih lobster untuk pembesaran masih bergantung pada hasil tangkapan dari alam, usaha pembesaran masih belum sepenuhnya berkembang karena harga benih yang relatif tinggi dan cenderung fluktuatif serta teknologi pembesaran dan penanganan (handling and transport) yang masih perlu ditingkatkan, pakan pembesaran masih mengandalkan ikan rucah karena pakan (pelet) pabrikan belum tersedia.

Dari kendala dan tantangan yang ada, dirumuskan rekomendasi untuk pengembangan budidaya lobster ke depan. Beberapa rekomendasi yang dirumuskan antara lain: pemantapan regulasi terkait zonasi usaha budidaya lobster dan pengendalian serta pengaturan tataniaga benih lobster, peningkatan teknik budidaya lobster serta pelaksanaan diseminasi usaha budidaya lobster, pengembangan pakan pembesaran lobster, peningkatan kapasitas sumberdaya manusia baik pelaku usaha pembenihan maupun pembesaran, pembentukan kelembagaan usaha budidaya termasuk pembentukan asosiasi, penguatan sarana dan prasarana (infrastruktur) di kawasan budidaya lobster, dan fasilitasi akses permodalan usaha budidaya lobster.