Dalam rangka meningkatkan produksi rumput laut, diperlukan ketersediaan bibit berkualitas. Namun, ketersediaan bibit dengan mutu yang baik masih sangat terbatas. Untuk itu, Direktorat Perbenihan Direktorat Jenderal perikanan Budidaya  menyelenggarakan Sosialisasi Kebun Bibit Rumput Laut guna memberikan bimbingan teknis bagi pembibit terkait dengan produksi bibit rumput laut berkualitas. Sehubungan dengan hal tersebut dapat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut. Sosialisasi Kebun Bibit Rumput Laut dilaksanakan di Makassar Sulawesi Selatan 24-25 Maret 2014, peserta forum sebanyak 40 orang yang terdiri atas pembibit rumput laut dan pembina teknis dari kabupaten/kota dimana peserta berasal.

Kegiatan Sosialisasi Kebun Bibit Rumput Laut dibuka oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, dilanjutkan dengan presentasi dari para narasumber dengan judul potensi dan pengembangan kebun bibit rumput laut di provinsi Sulawesi Selatan (Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan), Penyediaan Bibit Rumput Laut secara Massal melalui Seleksi Varietas guna Mendukung Pengembangan Usaha Rumput laut Berkelanjutan (Loka Litbang Budidaya Rumput Laut, Gorontalo), Strategi Penyediaan dan Penyebaran Bibit Rumput Laut Hasil Kultur Jaringan di Masyarakat (BBL Lampung), Pengelolaan Kebun Bibit Rumput Laut BBL Lombok dan Pemberdayaan Perbenihan Skala Kecil (Kasubdit Perbenihan Skala Kecil).

Rumput laut merupakan komoditas potensial dan unggulan di Provinsi Sulawesi Selatan kegunaannya antara lain sebagai bahan baku asalan maupun olahan, untuk keperluan farmasi, industri makanan, kosmetik dan industri lainnya. Akan tetapi potensinya belum dimanfaatkan secara optimal. Kandungan penting dalam tanaman rumput laut adalah agar-agar, karagenan dan alginat.. Dari 37 jenis rumput laut yang ada jenis Eucheuma cottonii dan Gracillariavarrucosayang dominan dibudidayakan melalui integrasi program revitalisasi dan program daerah. Areal budidaya rumput laut di laut 193.700 ha dan di tambak 32.000 ha. Areal budidaya Eucheuma cottoniiterletak di Kabupaten Selayar, Sinjai Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Makassar, Pangkep, Barru, Pinrang, Bone, Wajo, Paloppo, Luwu, Luwu Utara dan Luwu Timur. Sedangkan arel budidaya Gracillaria varrucosaadalah Sinjai, Bulukumba, Takalar, Pinrang, Bone, Wajo, Luwu Utara dan Luwu Timur.

Pengembangan rumput laut di Sulawesi Selatan diprogramkan oleh pemerintah sejak tahun 2009 hingga sekarang, selama 5 (lima) tahun terakhir telah berkontribusi signifikan terhadap pengentasan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi.  Produksi rumput laut di Sulawesi Selatan sebesar 2.422.154 ton kering (angka sementara) yang terdiri dari Eucheuma 1.661.334  ton kering dan Gracillaria sp 760.820 ton kering, dengan volume ekspor sebesar 80.904.5 ton bernilai US$86,25 juta. Rumput laut yang diekspor berupa bahan baku kering, powder dan chips. Pengusaha pabrikan/eksportir yang mengolah rumput laut Euchema ada 4 perusahaan sedangkan yang mengolah jenis Glacilaria statusnya bermitra, perusahaan tersebut berlokasi di Pulau Jawa (Tangerang dan Malang). Kondisi ini juga didukung oleh jejaring pemuliaan rumput laut sebanyak 13 anggota (PPBAP Maros,BBAP Situbondo, Dinas KP Prop. Sulteng, BBPBL LampungBBL Batam, Dinas KP Kab. Brebes, BBPBAP Jepara, BBL Lombok, SEAMEO Biotrop, BBAP Takalar, BBL Ambon, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo-Kendari, Dinas KP Kab. Nunukan)

Permasalahan hulu pada budidaya rumput laut pada umumnya adalah:

1) belum adanya aturan pemerintah daerah tentang tata ruang untuk budidaya rumput laut;

2) terbatasnya bibit rumput laut yang berkualitas;

3) tidak ada atau kurangnya jumlah kebun bibit;

4) kebun bibit yang telah ada belum terkelola dengan baik;

5) belum terfasilitasinya sistem permodalan;

6) lemahnya kelembagaan usaha;

7) budidaya rumput laut masih sangat tergantung kondisi alam/cuaca; dan

8) serangan penyakit (ice-ice) yang tiba-tiba.

Dengan demikian diperlukan strategi pengembangan industri rumput laut antara lain dengan pengembangan klaster industri RL, optimalisasi industri pengolahan rumput laut yang ada, pengembangan kemitraan usaha, pengembangan industri rumput laut bernilai tambah serta kerjasama 5 (lima) Kementerian dan 1 (satu) badan dalam pengembangannya.