Transfer teknologi budidaya udang yang dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, perlahan tapi pasti mulai membuahkan hasil. Teknologi budidaya udang yang nyata berhasil diterapkan oleh para pembudidaya adalah budidaya udang dengan sistem tertutup (closed system) untuk menghindari masuknya penyakit dari luar lingkungan tambak dan menjadikan lingkungan tambak udang lebih terkontrol. “Transfer teknologi ini adalah salah satu tujuan program revitalisasi tambak udang. Selain tujuan lainnya yaitu untuk merubah mindset petambak dari semula bertambak secara individual menjadi komunal (sistim klaster/kelompok) serta memperkuat jiwa kewirausahaan di kalangan petambak tradisional. Sistem klaster diperlukan sekali agar petambak bisa mengendalikan musim tanam, asal usul benih yang berkualitas dan sangat bermanfaat bagi pengendalian serta isolasi penyakit. Sekaligus menunjang keberhasilan dari sistem tertutup dalam budidaya udang, karena secara berkelompok petambak mengelola suatu kawasan untuk keberhasilan bersama”, demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto.

Lebih lanjut Slamet mengatakan bahwa untuk membangun suatu usaha perikanan budidaya yang kuat dan mandiri, para petambak harus tergabung dalam satu kelompok serta bertambak dalam satu klaster. “Sistem klaster akan mempermudah petambak untuk mengakses teknologi baru, mendapatkan pembinaan dan bahkan mempermudah dalam mendapatkan bantuan permodalan dari perbankan”, ungkap Slamet.

Kemitraan

Selain berbasis pembentukan klaster atau kelompok, prinsip dari program revitalisasi adalah berbasis masyarakat. Sehingga diperlukan adanya mitra untuk menjamin operasional tambak, keberhasilan usaha dan pasar. “Mengapa kemitraan, karena pembudidaya tradisional belum mampu berbudidaya tambak dengan teknologi yang dianjurkan sehingga diperlukan modal dan teknologi serta jaminan pasar yang dimiliki oleh mitra”’ ungkap Slamet.

Pola kemitraan ini sifatnya saling menguntungkan. Petambak udang lebih mudah mendapatkan sarana produksi tambak dan mempermudah dalam pemberian bantuan modal oleh perbankan kepada petambak karena menggunakan mitra sebagai agunan. “Pola kemitraan ini sangat menguntungkan pihak petambak dan mitra. Petambak akan mudah mendapatkan sarana produksi tambak karena difasilitasi oleh mitra, sedangkan mitra memiliki kepastian usaha karena dibantu petambak dalam menjalankan usahanya. Apalagi kalau dibentuk koperasi sebagai wadah, petambak dan mitra akan sama-sama terjamin dalam melakukan usahanya, karena sudah ada koperasi sebagai wasit”, papar Slamet.

Melalui kemitraan pula, kualitas dan kuantitas udang yang dihasilkan dalam suatu kawasan atau klaster akan terjaga. “Kualitas udang yang sesuai permintaan pasar akan meningkatkan daya saing produk tersebut di pasar internasional. Disamping itu akan menjamin kontinuitas hasil panen, sehingga pasar tidak dirugikan karena selalu mendapatkan pasokan produksi yang telah diatur bersama antara petambak dan mitra”, kata Slamet

POSIKANDU

Program revitalisasi tambak ini juga didukung sistem kesehatan ikan dan lingkungan yang dalam rangka meningkatkan produksi budidaya, menjamin produk perikanan budidaya yang berkualitas, berdaya saing dan berkelanjutan. Karena permasalahan penyakit ikan dan kerusakan lingkungan budidaya masih merupakan faktor dominan penyebab kegagalan produksi yang akan memberikan dampak sosial maupun ekonomi. Laboratorium kesehatan ikan dan lingkungan menjadi bagian penting kunci sukses dalam mengawal keberhasilan produksi perikanan budidaya tersebut. “Untuk menyediakan pelayanan kesehatan ikan dan lingkungan yang tepat sasaran di sentra-sentra produksi, telah dibangun POSIKANDU (Pos Kesehatan Ikan Terpadu). Saat ini POSIKANDU telah ada di 25 (dua puluh lima) kabupaten/kota yang merupakan kawasan industrialisasi perikanan budidaya. POSIKANDU akan dapat menyediakan informasi status kesehatan ikan di sentra budidaya melalui kegiatan pemeriksaan secara dini dan periodik sehingga penanganan terhadap kemungkinan terjadinya wabah secara cepat dapat segera ditangani. Salah satu yang sudah berhasil dan tetap akan terus dijalankan adalah mencegah dan mendeteksi penyakit udang Early Mortality Syndrome (EMS)”, papar Slamet.

Panen Udang di Kab. Pesawaran, Lampung

Seirin dengan semakin tingginya minta melakukan budidaya udang, pada hari Jum’at, 18 April 2014, Pokdakan Tegal Arum, yang diketuai oleh Bpk. Atien, berlokasi di Desa Durian, Kec. Padang Cermin, Kab. Pesawaran, Lampung melakukan panen perdana setelah sebelumnya vakum dalam berbudidaya udang. Kelompok ini merupakan salah satu kelompok yang mendapatkan bantuan program dari pemerintah melalui program revitalisasi tambak udang.

Panen udang dimulai pada tambak seluas 3.500 M2 dengan perkiraan panen mencapai 3,5 ton. Hari berikutnya akan dilakukan panen pada tambak seluas 4.800 M2 dengan perkiraan panen sekitar 4,5 ton. Total panen udang yang akan dilakukan pada empat petak tambak diperkirakan mencapai 19,5 ton.

Benih udang yang ditebar sebanyak 1,7 juta ekor dengan ukuran PL 11 – 13, berasal dari PT.CP Prima Lampung yang telah mendapatkan Certificate of Origin and Quality. Ukuran udang pada saat dipanen diperkirakan mencapai size 60 (@berat per ekor udang 18 gr) dengan harga Rp. 70.000/ kg. Hasil panen ini akan dikirim untuk memenuhi kebutuhan PT. Indokom, Lampung.