Produk perikanan budidaya Indonesia saat ini telah menjadi salah satu produk perdagangan global yang sangat dibutuhkan dan diperhitungkan. Indonesia sebagai negara produsen perikanan budidaya terbesar di dunia setelah China, di dorong untuk terus mempertahankan dan meningkatkan produksi baik dari segi kuantitas maupun kualitas.  “Peningkatan produksi dan daya saing produk perikanan budidaya merupakan salah satu arah kebijakan dari pembangunan perikanan budidaya yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) III tahun 2015 – 2019. Hal ini sekaligus mendorong kesiapan kita dalam menghadapi Pasar Bebas ASEAN Tahun 2015.” Demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada acara Buka Bersama dengan wartawan Kelautan dan Perikanan di Jakarta.

Lebih jauh Slamet mengatakan bahwa dalam era pasar bebas regional dan menuju pasar bebas internasional, peningkatan produksi dan daya saing produk perikanan budidaya harus diikuti dengan standar kualitas produk sekaligus peningkatan efisiensi usaha budidaya. “Kualitas produk perikanan budidaya hanya dapat dijaga melalui sistem pengawasan yang efektif dan efisiensi usaha budidaya hanya dapat diperoleh melalui integrasi usaha yang dapat dilakukan melalui pembentukan kelompok budidaya yang kuat”, tambah Slamet.

Untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk perikanan budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) telah menerapkan sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) maupun Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) yang saat ini mampu menjaga kualitas produk budidaya baik benih maupun konsumsi.”Kedua aturan ini disusun untuk mendukung penggunaan benih berkualitas dan juga menghasilkan produk perikanan berkualitas yang memiliki daya saing. Namun yang perlu juga diperhatikan adalah pengawasan dari penerapan CPIB dan CBIB ini. Pengawasan ini sangat diperlukan untuk tetap menjaga penerapan dari sertifikasi yang telah diberikan dan sekaligus juga untuk menjaga kualitas dari produksi perikanan budidaya,” papar Slamet.

Pengawasan akan lebih mudah dilakukan apabila suatu usaha budidaya dilakukan dalam suatu kawasan dan berbasis kelompok. “Klasterisasi atau pengelompokkan suatu usaha akan mempermudah pengelolaan usaha sekaligus dapat meningkatkan efisiensi usaha budidaya itu sendiri. Melalui kelompok dan juga klasterisasi, akan mudah terjadi alih teknologi, pengendalaian dan pencegahan penyakit dann mempermudah akses permodalan. Hanya saja yang perlu diketahui bahwa sistem klaster hanya akan terbentuk melalui menajamen kolektif yang dipegang oleh seorang manajer teknis. Sistem Klaster juga akan menciptakan kekompakan dan kebersamaan”, tambah Slamet.

 

Solusi untuk melakukan pengawasan, pengendalian dan peningkatan efisiensi usaha budidaya dalam rangka peningkatan kualitas dan daya saing produk perikanan budidaya ini adalah AQUA CARDS. “ Aqua cards adalah kartu pengendali teknis, pengendali mutu dan juga pencatat data. Jadi bisa berfungsi sebagai Quality Control dan Quality Assurance produk perikanan budidaya. Ada tiga macam Aqua Cards yaitu Aqua Cards B untuk pembudidaya ikan, Aqua Cards H untuk pembenih ikan dan Aqua Cards T untuk Teknisi Budidaya. Kartu ini akan berisi data-data teknis pembudidaya, pembenih dan teknisi yang akan tersaji apabila diperlukan dan akan tersimpan rapi dalan data base. Data base yang ada dapat digunakan untuk memantau kondisi usaha pembudidaya pemegang kartu baik itu status CBIB/CPIB, hasil panen, penyakit, dan data teknis ”, kata Slamet.

Manfaat dari Aqua Cards bagi pembudidaya adalah adanya kepastian pembinaan dan bimbingan baik dari pemerintah melalui penyuluh maupun teknisi (teknisi pakan, teknisi obat maupun teknisi budidaya). Disamping itu pembudidaya akan mendapatkan kemudahan dalam pemasaran hasil produksinya. Bagi pemerintah, Aqua Cards akan memudahkan dalam melakukan pembinaan yang dilakukan secara bertingkat mulai dari pemerintah daerah, pusat maupun swasta. Ketelusuran produk perikanan budidaya akan lebih mudah dilakukan melalui data base yang ada di kartu ini.

Slamet menambahkan pada tahun 2014, Aqua Cards sudah diberikan kepada 400 orang pembudidaya. “Nantinya target pemegang Aqua Cards adalah semua pemegang sertifikat CPIB dan CBIB.. Dengan penerbitan Aqua Cards ini kita akan mencoba untuk melakukan pendataan terhadap para pembudidaya, pembenih, dan juga teknisi. Selanjutnya data base yang sudah ada akan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan daya saing produk perikanan budidaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan para pembudidaya”, pungkas Slamet
Sumber: DJPB RMR_Prod