Oleh : Evri Noerbaeti
Divisi Keskanling BPBL Ambon

Bloomingnya infeksi iridovirus sempat menggegerkan kalangan praktisi usaha budidaya kerapu di Indonesia. Bagaimana tidak, dampak yang ditimbulkan menyePicture1babkan kerugian besar akibat kematian ikan dengan ukuran siap jual. Merebak dengan serentak di akhir tahun 2012 dan menyebabkan kerugian hingga milliaran rupiah. Infeksi iridovirus dikenal sebagai penyakit yang mampu menyebabkan tingkat kematian mencapai 100%. Pengalaman serupa dialami BPBL Ambon di bulan Februari 2013 lalu. Kematian akibat iridovirus terjadi hanya dalam jangka waktu beberapa hari hingga 2 minggu. Tingkat kematian mencapai 60% dan mungkin saja 100% jika tidak tertangani dengan segera saat itu. Ikan yang terinfeksi menunjukan gejala klinis lemah dan malas berenang sehingga terlihat hanya berdiam diri di permukaan air atau dasar jaring, warna tubuhnya menjadi lebih gelap disertai anemia berat yang dapat dilihat dari warna insang yang pucat. Bila melihat organ dalamnya setelah dibedah, hati bengkak dengan warna gelap akibat perdarahan hebat atau sebaliknya terlihat pucat. Kondisi yang sama juga terlihat pada organ limfa yang mengalami pembengkakan dan berwarna sangat gelap hampir kehitaman. Jenis kerapu yang paling riskan terinfeksi iridovirus adalah kerapu bebek dan diketahui mampu menginfeksi ikan mulai dari stadia fingerling hingga ukuran siap jual.

Infeksi iridovirus pada ikan kerapu budidaya menyebabkan penyakit “kerapu tidur“ atau Sleepy Grouper Disease Iridovirus (SGDIV) yang disebabkan oleh virus genera iridovirus dari kelompok Iridoviridae dan merupakan virus DNA sitoplasmik yang menyebabkan infeksi sistemik pada ikan. Seperti juga SGDIV, genera iridovirus lainnya yang menyebabkan infeksi iridovirus dengan gejala yang hampir mirip adalah Red Sea Bream Disease Iridovirus (RSDIV). Keduanya genera virus ini bahkan diketahui selalu menginfeksi budidaya ikan kerapu di Indonesia. Penularan iridovirus dapat terjadi secara horisontal dari ikan yang terinfeksi ke ikan yang sehat. Virus dengan mudah melipatgandakan diri pada sitoplasma sel limfa dan anterior ginjal. Akibatnya terjadi degenerasi fungsi kedua organ ini karena tergganggunya kelancaran peredaran darah. Disamping itu virus dengan mudahnya dapat bermigrasi ke organ-organ lain seperti hati, jantung, lambung, usus dan insang. Dengan terinfeksinya organ usus dan insang, penularan secara horisontal ke ikan sehat dapat dengan mudah terjadi. Kedua organ ini secara tidak langsung adalah sebagai media penular virus ke lingkungan perairan budidaya karena letak posisi kedua organ ini memiliki kontak langsung dengan lingkungan, sehingga virus yang terkandung dalam badan inklusi dari sel-sel yang terinfeksi akan dengan cepat dilepas dari sel yang telah lisis ke lingkungan perairan.

 

Munculnya suatu penyakit apabila terjadi pola hubungan yang tidak seimbang antara unsur patogen, inang dan lingkungan. Bila kondisi lingkungan yang tidak sesuai dengan kondisi yang mendukung kehidupan inang, seperti terjadinya penurunan kualitas air maka hal ini akan memacu suatu keadaan tertekan (stres) bagi si inang. Kondisi stres inilah yang akan memicu penurunan daya tahan tubuh ikan yang dibudidayakan, dan di saat bersamaan itu pula pathogen penyakit akan dengan mudah menyerang. Atau dengan kata lain bila kondisi lingkungan  menurun, pathogen penyakit menjadi lebih ganas dan daya tahan tubuh inang menurun.  kondisi tersebut sangat memungkinkan timbulnya penyakit pada kegiatan budidaya ikan. Kunci utama yang perlu dicermati dalam mengamati kesehatan ikan adalah tingkat stress yang sedang dialami oleh ikan. Stress pada ikan dapat dipicu oleh banyak faktor termasuk salah satunya adalah kondisi lingkungan. Gangguan yang menyebabkan goncangan pada salah satu parameter kualitas air di lingkungan budidaya ikan dapat menjadi pemicu munculnya infeksi iridovirus pada ikan dan terutama pada ikan yang pernah memiliki riwayat terinfeksi iridovirus. Contoh kasus pada kejadian serangan iridovirus di tahun 2012 di wilayah perairan teluk Mandeh Sumatera Barat,  dari hasil uji kualitas air menunjukan adanya gangguan pada nilai ammonia (NH3-N)  cukup tinggi hingga diatas 2 mg/L. Pada saat kadar amoniak tinggi dalam air laut maka kemampuan ikan untuk mengekskresikan amoniak menjadi berkurang, dampaknya adalah terjadi kenaikan kadar amoniak dalam darah dan memberikan efek negatif seperti kerusakan insang. Tingginya nilai ammonia di perairan salah satunya dapat disebabkan oleh adanya blooming plankton. Blooming plankton pada jenis tertentu ternyata juga dapat memicu munculnya serangan iridovirus diwilayah itu. Kasus yang pernah dialami awal tahun 2013 pada pembesaran kerapu di perairan Teluk Ambon Dalam di KJA BPBL Ambon dipicu oleh blooming plankton dari genus Chaetoceros. Beberapa jenis yang dianggap mampu memicu timbulnya infeksi iridovirus adalah jenis-jenis yang memiliki chaeta (duri) yang panjang seperti jenis C. terres, C. diversus, dan C. laevis. Dengan kepadatan 104 sel/100 ml, jenis-jenis ini telah mampu dengan serempak menyebabkan ikan menunjukkan gejala klinis seperti terbalik dengan perut kembung atau tergeletak lemah didasar jaring. Kematian berlangsung dengan cepat terutama pada ikan-ikan yang tergeletak didasar jaring. Chaetoceros dianggap mampu menyebabkan kerusakan mekanik terhadap insang yang menyebabkan gangguan pernafasan dan meningkatkan stress pada ikan. Kondisi diperparah bilamana infeksi virus sudah menyebar hingga organ insang, maka dengan sangat cepat serangan iridovirus merebak di area tersebut.

Picture2

Parameter lingkungan lainnya yang juga dapat menjadi pemicu kondisi stress pada ikan adalah tingginya salinitas. Tingginya kadar salinitas dapat diakibatkan oleh lemahnya perputaran arus diperairan tersebut. Kasus demikian pernah terjadi di triwulan ke-2 tahun 2014 pada pembesaran kerapu di KJA milik BPBL Ambon di Masika Jaya Kabupaten Seram Bagian Barat. Lemahnya perputaran arus terlihat dari kondisi perairan yang sangat tenang. Hasil pengukuran parameter kualitas air lainnya masih dalam batas normal kecuali nilai salinitas yang mencapai 35-36 ppt. Sebagai kelompok ikan stenohaline, kerapu memiliki toleransi yang terbatas pada perubahan salinitas yang dapat menyebabkan stress karena berpengaruh pada ketidakmampuan dalam mengatur osmosis cairan tubuh bila mengalami fluktuasi yang besar.
Menyimak uraian diatas, kita dapat menemukan titik simpul bahwa kondisi stress yang dialami ikan akibat perubahan kondisi lingkungan perairan dapat menjadi pemicu munculnya infeksi iridovirus pada ikan yang memiliki riwayat pernah terinfeksi iridovirus dan berpeluang menularkan infeksi secara horizontal ke ikan yang sehat serta menyebabkan wabah di area tersebut.