Bisnis.com, JAKARTA — Kepala Riset Pusat Kajian Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana mengatakan rumput laut Indonesia memiliki daya saing yang tinggi sehingga potensial untuk terus memenuhi kebutuhan rumput laut dunia.

Dia mengatakan hal tersebut berdasarkan hasil analisis Revealed Comparative Advantage (RCA), Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) dan nilai pangsa pasar (PI).

Rinciannya, Nilai RCA rumput laut pada 2013 mencapai 86,75, meningkat dibandingkan 2009 yang bernilai 75,50. Nilai ISP mencapai pada 2013 bernilai 0,98, sementara pada 2009 bernilai 0,97. Nilai PI pada 2003 adalah 0,67, sementara pada 2009 juga bernilai 0,67.

“Berdasarkan ketiga kriteria tersebut terlihat bahwa rumput laut memiliki daya saing yang tinggi. Artinya bahwa rumput laut memang sangat potensial untuk terus dikembangkan,” katanya, Senin (8/9/2014).

Hal tersebut selaras dengan data terbaru yang dikeluarkan UN-Comtrade yang menunjukan bahwa Indonesia menjadi negara eksportir nomor satu rumput laut dunia, dengan nilai US$162.456.415 atau sekitar 21,79% dari total nilai ekspor rumput laut dunia US$ 745.418.307. Di belakang Indonesia, ada Chile (19,10%), Korea Selatan (18,39% ), China (9,63%), dan Peru (4,89%).

Namun, dia mengatakan perlu adanya perbaikan yang menyeluruh dari produksi hingga pemasaran agar industri ini semakin terjamin.

Selain pembentukan tata ruang atau zonasi zonasi, perlu diadakan sinkronisasi jenis rumput laut yang diproduksi pembudidaya dengan industri yang berkembang di Indonesia.

“Perlu ada perencanaan bersama antara pihak industri dengan pembudidaya rumput laut, dan tentunya pemerintah untuk zonasi agar tidak tumpang tindih dengan aktivitas lain,” tuturnya.

KKP memang tengah memfokuskan untuk menggenjot perikanan budidaya hingga 2019. Rumput laut diharapkan sebagai komoditas yang akan memberikan kontribusi yang besar pada sektor ini.

Berdasarkan rancangan awal rencana pembangunan kelautan dan perikanan 2015-2019, produksi rumput laut ditargetkan dapat mencapai 19.544.000 juta ton, atau hampir tiga kali lipat dari total produksi saat ini.

Sumber :http://industri.bisnis.com