Upaya pengembangan kawasan budidaya laut atau marikultur terus di tingkatkan. Hal ini sepadan dengan potensi lahan marikultur Indonesia yang mencapai 4,58 juta ha dan baru dimanfaatkan kurang dari 2 %. Disamping itu prospek pengembangan usaha marikultur dapat dilakukan mulai wilayah garis pantai kurang dari 4 mil, 4 – 12 mil hingga ke area lepas pantai. “Untuk wilayah garis pantai sampai dengan 4 mil, dapat dikembangkan untuk budidaya rumput laut. Sedangkan untuk wilayah di atas 4 mil dapat dikembangkan budidaya laut dengan menggunakan Karamba Jaring Apung (KJA) dengan komoditas yang disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing seperti Kakap, Kerapu, Bawal Bintang, Abalone atau bahkan Tuna. Disamping itu, komoditas marikultur merupakan komoditas ekspor dan banyak diminati oleh pasar luar negeri yang masih sangat terbuka lebar”, demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada saat melakukan panen perdana di KJA Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam hasil kerjasama dengan KADIN Batam.

 

Lebih jauh Slamet menambahkan bahwa kerjasama dengan KADIN merupakan salah satu upaya untuk menarik investasi di bidang perikanan budidaya khususnya marikultur. “Marikultur merupakan usaha yang padat modal, padar teknologi dan menyerap tenaga kerja. Sehingga diperlukan investor investor baru yang mampu dan mau menanamkan investasinya di usaha marikultur ini. Khusus di Batam atau di Propinsi Kep. Riau, Pemerintah Daerah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Kepri sangat mendukung pengembangan marikultur di wilayahnya. Bahkan salah satu program Prop. Kepri adalah menjadikan Kepri sebagai MARICULTURE PROVINCE. Kita sangat mendukung hal ini dengan melihat potensi yang dimiliki oleh Kepri”, tambah Slamet.

 

Untuk lebih mendukung pengembangan marikultur di kawasan ini, Diektorat Jenderal Perikanan Budidaya, sedang mengembangkan Broodstock center komoditas Kakap di BPBL Batam. “Broodstock center ini akan menghasilkan benih bermutu dengan jumlah yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam hal ini usaha marikultur yang terus meningkat. Kenapa dipilih batam, karena lokasi yang dekat dengan pasar benih dan kondisi alam yang sesuai untuk mengembangkan komoditas marikultur. Ke depan, benih-benih komoditas marikultur lain juga akan dikembangkan seperti bawal bintang dan juga kerapu”, ungkap Slamet.

 

Untuk lebih menggenjot peningkatan produksi perikanan budidaya yang berkelanjutan dan bernilai tambah, DJPB akan menerapkan Total Akuakultur. Total Akuakultur adalah penerapan teknologi tepat guna dalam rantai produksi perikanan dari hulu sampai hilir. Penerapan Total Akuakultur ini ke depan bakal semakin meningkatkan produksi dan daya saing produk perikanan hasil budidaya. “Dengan total akuakultur di semua lini produksi dari induk, benih, pengelolaan pakan, pengelolaan air, dan menuju zero waste aquaculture, peningkatan produksi secara efektif dan efisien akan dapat tercapai”, papar Slamet.

 

Penerapan total akuakultur dalam usaha marikultur menjadi sangat tepat, karena dalam marikultur diperlukan penerapan teknologi tepat guna dalam rantai produksi. “Penyediaan benih dan induk bermutu, pakan berkualitas, pengelolaan pakan, pencegahan penyakit melalui vaksinasi dan juga cara panen dan transportasi komoditas marikultur memerlukan penerapan dari TOTAL AKUAKULTUR ini, sehingga selain produksi meningkat, maka produk tersebut akan memiliki nilai tambah dan usaha marikultur menjadi berkelanjutan”, pungkas Slamet.
Sumber: http://www.djpb.kkp.go.id/berita.php?id=1040