Jakarta. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) secara aktif terus melakukan sosialisasi terkait implementasi Peraturan Menteri KP Nomor 1 Tahun 2015 tentang pembatasan penangkapan 3 komoditas, yaitu Lobster, Kepiting, dan Rajungan.

Dalam konferensi pers Selasa (3/2), Sekretaris BKIPM Agus Priyono mengatakan bahwa pihaknya telah menyebarkan surat edaran sebagai petunjuk pelaksanaan Permen No.1 tersebut. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pengawasan di lapangan.

Oleh karena itu, menurut Agus, 3 komoditas tersebut sudah jelas pembatasan penangkapannya bahwa dalam kondisi bertelur tidak boleh ditangkap. Terkait ukuran untuk lobster dibatasi harus melebihi 20 cm panjang karapas, kepiting 15 cm ke atas, dan rajungan lebih dari 10 cm. Selain itu dari Januari 2015 hingga Desember 2015 yang boleh diperjual belikan adalah Lobster dengan berat lebih dari 200 gram, Kepiting lebih dari 200 gram, dan Rajungan lebih dari 55 gram.

Menurut Agus, jika masih ada yang menangkap di bawah berat yang telah ditentukan tersebut apalagi dalam kondisi bertelur, 3 Komoditas ini akan habis dan musnah dalam waktu beberapa tahun lagi. Dan menurutnya, Menteri Susi menetapkan kebijakan ini tentunya untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan yang berkesinambungan.

Untuk mengimplementasikan permen ini, Agus mengatakan BKIPM telah melakukan upaya-upaya diantaranya yaitu mensosialisasikan internal organisasi, sosialisasi eksternal ke seluruh stakeholder asosisasi di unit pengelola teknis (UPT) seluruh Indonesia, koordinasi pada satuan kerja terkait, dan peningkatan pengawasan pada bandara udara dan lintas batas. “Kemudian endingnya kita akan lakukan pelepasan liar ke alam”, kata Agus.

UpayapPengawasan pada bandar udara dan lintas batas, Agus menjelaskan prosesnya di samping melihat, pihaknya juga menimbang berat Lobster, Kepiting, dan Rajungan tersebut. Dalam hal ini dirinya mengaku mengalami kesulitan karena yang ditimbang bukan 1 atau 2 ekor saja melainkan 1 hingga 2 ton Kepitng, Lobster, dan Rajungan. “Ini sangat memberatkan bagi kami, karena di bandara itu kami juga menimbang satu per satu 3 komoditas tersebut”, jelas Agus.

Namun dengan dilakukanya pengawasan ini, BKIPM bersama dinas terkait masih banyak melakukan penolakan terhadap 3 Komoditas tersebut. Sebab penolakan ini menurut Agus, pertama diluar ketentuan yang dilalu lintaskan dan banyak pelanggaran terhadap ketentuan peraturan yang telah ditetapkan.

Agus mencontohkan, menurut catatan BKIPM tumpukan lobster, kepiting dan rajungan bertelur dalam keadaan hidup dan mati paling banyak ditemukan di Bandara Soekarno Hatta yaitu sekitar 13.636 ekor untuk yang hidup dan sekitar 6.736 kg untuk yang mati. “Bandara Soekarno-Hatta itu penerbangannya sangat banyak ke negara manapun ada. Kalau Bandara Juanda, Surabaya hanya ada untuk penerbangan Hong Kong, Taiwan, Malaysia. Di Soekarno-Hatta juga pasti dapat ruangan untuk berangkat,” katanya.

Selain itu penolakan 3 komoditas yang hidup dan mati berdasarkan pintu pengeluaran masih terdapat di Bandara Juanda 3.800 ekor, Bandara Sepinggan Balikpapan 901 ekor, Bandara Haluoleo Kendari 135 ekor, Bandara Minangkabau 42 ekor, Bandara Sultan Thaha Jambi 40 ekor, Bandara Ngurah Rai 17 ekor, Bandara Adi Sucipto12 ekor, Bandara Syukuran Aminuddin 11 ekor. “Jadi, jumlah keseluruhannya yaitu 18.718 ekor yang hidup dan 6.772 kg yang mati”, kata Agus.

Sumber : http://kkp.go.id