Tidak dipungkiri, bahwa pemenuhan kebutuhan ikan bagi masyarakat di Indonesia maupun dunia, semakin mengandalkan produksi dari kegiatan budidaya.  Hal ini dapat dimaklumi, karena pada beberapa tahun terakhir ini, aktivitas penngkapan ikan dihadapkan pada kondisi ketersediaan populasi ikan yang semakin menurun, sehingga produksinya relatif stagnan.  Secara teknis berbagai komoditas ikan yang digemari masyarakat telah berhasil dibudidayakan dan secara ekonomis juga cukup prospektif.

 

Ikan hasil budidaya memiliki keunggulan antara lain ukurannya relatif seragam, kesinambungan produksinya lebih terjamin, dan jenisnya juga dapat disesuaikan dengan permintaan.  Secara ekonomis, pengembangan budidaya perikanan di berbagai daerah telah memberikan dampak positif bagi peningkatan pendapatan masyarakat, dan secara strategis dapat meyediakan lapangan kerja yang cukup banyak, serta bisa menjadi lumbung protein hewani bagi masyarakat.

 

Selain akibat dari semakin meningkatnya permintaan ikan, perkembangan  budidaya perikanan di Indonesia dipercepat oleh meningkatnya animo masyarakat, ketersediaan sumberdaya lahan dan air, tersedianya benih ikan dan sarana produksi lainnya, serta makin terbukanya aksesibilitas ke sentra produksi.

 

Berbagai kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah juga memberikan iklim yang kondusif untuk pengembangan budidaya perikanan di berbagai wilayah.  Namun demikian pengembangan budidaya perikanan masih dihadapkan pada tantangan yang perlu mendapat perhatian dalam penanganannya, termasuk diantaranya penyediaan pakan yang berkualitas dengan harga  terjangkau.

 

Pakan Ikan Sebagai Faktor Pembatas

 

Perkembangan budidaya perikanan secara langsung membutuhkan pasokan berbagai sarana produksi dalam jumlah dan mutu yang memadai, seperti benih ikan, peralatan dan mesin, obat-obatan dan yang paling penting adalah pakan dengan jumlah yang cukup dan harga ekonomis.

 

Dari berbagai jenis sarana produksi yang dibutuhkan tersebut, pakan ikan merupakan komponen yang sangat penting dalam mendukung efisiensi biaya produksi.  Kalkulasi secara umum, memberikan keterangan bahwa komponen pakan memberikan kontribusi  cukup besar (50-70%) terhadap total biaya produksi budidaya ikan.  Prosentase kontribusi pakan tersebut berkaitan erat dengan intensitas pembudidayaan ikan yang dilakukan.  Semakin intensif pembudidayaan ikan yang dilakukan, kontribusi pakan pun semakin meningkat dan sebaliknya.

 

Mempertimbangkan peran strategis pakan terhadap biaya produksi tersebut, menjadikan pakan sebagai faktor pembatas dalam budidaya perikanan.  Bila pakan dapat tersedia dalam jumlah dan kualitas yang mencukupi serta harganya ekonomis, maka peluang pengembangan budidaya perikanan menjadi semakin terbuka.

 

Pakan ikan yang digunakan dalam kegiatan budidaya ikan air tawar maupun air payau sebagian besar dalam bentuk pelet hasil produksi pabrikan; sedangkan pada budidaya ikan laut sebagian besar masih mengandalkan pakan ikan segar. Ketersediaan pakan untuk kegiatan budidaya perikanan seringkali belum sepenuhnya memenuhi kriteria lima tepat, yaitu tepat mutu, tepat jumlah, tepat tempat, tepat jenis dan tepat harga.  Secara mutu, pakan jenis pelet yang diproduksi oleh pabrik sebagian besar dinilai sudah mengandung nutrisi sesuai persyaratan yang tercantum dalam SNI.  Pengakuan akan hal ini dibuktikan dalam bentuk terdaftarnya pakan produk pabrikan yang beredar di pasaran.  Namun demikian biasanya pakan yang memenuhi kriteria teknis tersebut harganya dinilai kurang ekonomis, dalam arti tidak dapat memberikan keuntungan usaha yang memadai. Untuk menyiasati hal ini, terkadang para pembudidaya mengusulkan kepada produsen pakan, agar disediakan pakan murah, walaupun nutrisinya tidak memenuhi kriteria teknis sebagaimana dipersyaratkan.   Tentunga penggunaan pakan jenis demikian kurang memberikan hasil yang baik.  Selain masalah mutu, tantangan lain dalam penyediaan pakan adalah keterbatasn distribusi ke kawasan budidaya perikanan, terutama belum baiknya prasarana dan sarana transportasi, sehingga menyebabkan melambungnya harga pakan.  Hal ini berakibat lanjut pada semakin kurang ekonomisnya pakan yang tersedia.

 

Berkaitan dengan penyediaan pakan oleh pabrikan, pakan yang merupakan sarana produksi utama, dalam pembentukan harganya lebih banyak ditentukan oleh pihak pemasok (pabrik dan pedagang pakan).  Sementara itu, bila pembudidaya menjual ikan hasil produksinya, maka pembentukan harganya ditentukan oleh pihak pembeli.  Dengan demikian, pembudidaya tidak memiliki posisi tawar yang kuat, senantiasa berada dalam dua sisi tekanan ekonomis yang kuat, baik di sektor hulu maupun hilir.   Berangkat dari kondisi ini, bila pembudidaya lebih mengandalkan pasokan pakan dari produksi pabrikan, seringkali usaha yang dilakukan tidak memberikan keuntungan yang optimal, karena margin keuntungannya sangat kecil.

 

Untuk mengatasi masalah ini, perlu dicari alternatif dalam penyediaan pakan yang memenuhi kriteria lima tepat, sehingga dapat mendukung perkembangan budidaya ikan yang menguntungkan.

 

Pakan Ikan Mandiri Sebagai Solusi

 

Sebagaimana telah diungkapkan di atas, bahwa penyediaan pakan ikan oleh industri pakan belum sepenuhnya memberikan kontribusi bagi peningkatan keuntungan usaha secara optimal bagi pembudidaya.  Harga pakan yang cenderung merangkak naik dari waktu ke waktu sedangkan harga ikan hasil budidaya relatif stagnan, telah mengggerus margin keuntungan yang didapat pembudidaya.  Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menggalakkan pengembangan pakan ikan mandiri oleh para pembudidaya yang tergabung dalam kelompok pembudidaya ikan (pokdakan).  Pengembangan pakan mandiri memiliki kelebihan sebagai berikut:

 

 

    1. Dapat dihasilkan pakan berkualitas dengan harga terjangkau, karena dalam proses produksinya dapat dilakukan penghematan biaya produksi dan transportasi.

 

    1. Dapat dihasilkan jenis dan kualitas pakan sesuai dengan kebutuhan ikan yang dibudidayakan;

 

    1. Sebagian bahan baku pakan dapat disiapkan masyarakat di sekitar kawasan pembudidayan ikan, sehingga memberikan peluang harga bahan baku lebih terjangkau;

 

    1. Dapat dilakukan penghematan biaya produksi antara lain dengan penghematan biaya tenaga kerja (proses pembuatan pakan dilakukan oleh pembudidaya) dan biaya distribusi (karena proses pembuatan dilakukan di lingkungan pembudidayaan ikan)

 

 

Menyikapi Tantangan Dalam Pengembangan Pakan Ikan Mandiri

 

Suatu kegiatan strategis dan besar, biasanya dihadapkan pada tantangan yang besar pula, demikian pula dalam pengembangan pakan ikan mandiri.   Berdasarkan analisis empiris, berbagai tantangan yang dihadapi dalam pengembangan pakan mandiri antara lain meliputi: ketersediaan bahan baku, dukungan sarana prasarana, ketersedian SDM, persepsi masyarakat, kesiapan teknologi, konsistensi dalam produksi, dan dukungan dari pemerintah / pemerintah daerah.   Secara singkat tantangan tersebut dapat disampaikan sebagai berikut.

 

1)       Ketersediaan bahan baku

 

            Bahan baku utama untuk pembuatan pakan ikan adalah tepung ikan.  Pada beberapa ransum pakan, tepung ikan dapat mencapai lebih dari 60% dari komposisi bahan baku penyusun pakan.  Dengan demikian, tepung ikan menjadi faktor pembatas utama dalam produksi pakan mandiri.  Selama ini, tepung ikan masih mengandalkan pasokan dari import, yang harga dan jumlah pasokannya sangat berfluktuasi tergantung dari nilai tukar mata uang dan kondisi perdagangan dunia.  Sementara itu, tepung ikan produksi dalam negeri masih sangat terbatas jumahnya, dan sebagian kualitasnya belum memenuhi standar yang diharapkan.  Kecilnya produksi tepung ikan dalam negeri, kemungkinan diakibatkan oleh beberapa hal, antara lain:

 

 

    1. Belum adanya usaha tepung ikan yang bersifat khusus yang terintegrasi mulai dari penangkapan ikan sampai dengan produksi tepung ikan.  Pada umumnya industri tepung ikan yang bberkembang saat ini masih merupakan bagian dari industri pengolahan ikan, yang dialokasikan memanfaatkan limbah (sisa pengolahan ikan) untuk dijadikan tepung ikan;

 

    1. Kelangkaan ikan sebagai bahan baku tepung ikan, karena hampir semua jenis dan kualitas ikan yang tertangkap dimanfaatkan oleh masyarakat untuk keperluan konsumsi dengan berbagai variannya (ikan segar, ikan olahan, ikan asin, terasi dsb).

 

    1. Belum adanya insentif yang memadai bagi sektor usaha untuk memproduksi tepung ikan.

 

    1. Iklim usaha yang kurang kondusif bagi pengembangan industri tepung ikan.

 

 

Untuk itu perlu dilakukan penetapan dan implementasi kebijakan pengembangan industri tepung ikan dalam negeri, antara lain dengan mendorong BUMN / BUMD untuk mengembangan usaha industri tepung ikan secara khusus.   Pelibatan BUMN tersebut dimaksudkan untuk memberikan peluang diterapkannya insentif yang cukup besar dan pengendalian harga tepung ikan yang dihasilkan.  Dalam hal ini industri tepung ikan terintegrasi mulai dari penangkapan ikan, pengolahan tepung ikan sampai dengan pendistribusiannya.  Industri tepung ikan tersebut perlu mendapat insentif yang cukup besar dari pemerintah, sehingga dapat memproduksi tepung ikan berkualitas dalam jumlah cukup, sehingga dapat memenuhi kebutuhan tepung ikan dalam negeri.  Pengembangan industri tepung ikan, kemungkinan dapat dikerjasamakan dengan pelaku usaha penangkapan ikan yang menggunakan alat tangkap fish net  dan pukat udang skala besar yang mendapat konsesi penangkapan ikan di Laut Arafura, untuk memanfaatkan hasil tangkapan samping (by catch).

 

Selain tepung ikan, tentunya penyediaan bahan baku lainnya juga perlu mendapat perhatian, terutama dalam hal kualitas dan kontinuitas penyediaannya.  Bahan baku dimaksud antara lain: tepung bungkil kedelai, tepung jagung, dan lain-lain.  Perlu diupayakan agar sebagian besar penyediaan produksi bahan baku tersebut dapat dilakukan di dalam negeri dan mendapat insentif dalam pengadaannya sehingga harganya terjangkau (ekonomis).

 

2)     Sarana prasarana

 

Tantangan lain yang dihadapi dalam pengembangan pakan mandiri adalah penyediaan sarana dan prasarana, khususnya penyediaan peralatan dan mesin yang dibutuhkan.   Penyediaan peralatan dan mesin pembuat pakan ikan sudah sering dilakukan secara langsung oleh pemerintah maupun pemerintah daerah.  Namun demikian kinerja pemanfaatan peralatan dan mesin yang telah disediakan tersebut dalam berbagai hal masih jauh dari yang diharapkan.  Permasalahan klasik yang sering dijumpai antara lain: SDM yang belum siap, paket peralatan yang kurang lengkap, kelangkaan bahan baku, harga bahan baku yang kurang menguntungkan, kualitas produk yang belum memenuhi kebutuhan ikan yang dibudidayakan, persepsi pembudidaya  yang lebih condong menggunakan pakan buatan pabrik,  serta keterbatasan modal usaha.  Berbagai permasalahan tersebut, seringkali dialamatkan pada peralaran yang kurang sesuai, sehingga tidak dimanfaatkan secara optimal.

 

Oleh karena itu, dalam penyediaan peralatan untuk mendukung penyediaan pakan ikan mandiri  perlu dilakukan secara terprogram, dengan menerapkan azas selektivitas yang tinggi, sehingga peralatan yang disediakan dapat dioptimalkan pemanfatannya.  Penyediaan paket sarana dan prasarana pakan mandiri perlu didahului dengan identifikasi yang ketat, untuk mengetahui spesifikasi dan kapasitas peralatan yang dibutuhkan, kesiapan SDM pengelola dan prediksi keberlangsungan operasionalnya, termasuk kesiapan catu daya listrik yang tersedia.  Penyediaan paket peralatan tersebut juga perlu dibarengi dengan pembinaan teknis dan manageraial secara berkesinambungan, termasuk dukungan modal usahanya.

 

3)     Kesiapan teknologi

 

Secara teoritis praktis, teknologi pembuatan pakan ikan telah dapat dikembangkan oleh unit penelitian dan perekayasaan teknologi budidaya ikan di lingkungan KKP.   Formulasi bahan baku untuk mendapatkan nutrisi yang tepat untuk jeni-jenis ikan tertentu juga sudah didapatkan.  Demikian halnya bentuk dan formula nutrisi pakan juga sudah mampu disiapkan untuk memenuhi kebutuhan berbagai jenis ikan yang dibudidayakan.  Namun demikian, seringkali produk pakan ikan yang dihasilkan secara mandiri tersebut belum dapat memenuhi “selera” yang ikan yang dibudidayakan, dalam artian, bahwa pakan ikan tersebut kurang disukai oleh ikan, sehingga FCR nya kurang baik.  Hal ini kemungkinan diakibatkan oleh kualitas bahan baku yang belum terstandar, sehingga kualitas pakan yang dihasilkan belum memenuhi kriteria nutrisi sebagaimana yang diharapkan.  Selain itu, penggunaan fish antractant sebagaimana yang dipergunakan pada pakan pabrikan juga perlu mendapat perhatian sehingga pakan yang dihasilkan secara mandiri dapat mengimbangi kualitas pakan pabrikan.

 

Dengan demikian, untuk mendukung program pakan ikan mandiri perlu dilakukan pelibatan unit-unit penelitian dan perekayasaan teknologi pakan ikan, sehingga dapat dihasilkan teknologi produksi pakan ikan yang dapat mengimbangi kualitas pakan ikan pabrikan.    Paket teknologi yang dihasilkan tersebut perlu segera didiseminasikan kepada unit-unit produksi pakan ikan mandiri.  Selanjutnya, unit-unit penelitian dan perekayasaan teknologi pakan ikan juga perlu dilibatkan secara aktif untuk memberikan bimbingan teknis dalam proses produksi pakan mandiri yang dilakukan oleh pembudidaya ikan.   Untuk membangun komunikasi yang efektif antara penyedia dan pengguna teknologi pakan ikan, perlu dipertimbangakan dikembangkannya forum pakan ikan yang antara lain beranggotakan; unit penelitian dan perekaysaan pakan, produsen pakan mandiri, penyedia bahan baku, pakar pakan ikan, perguruan tinggi, serta masyarakat pengguna pakan mandiri.

 

4)     Kesiapan SDM

 

            Pengembangan industri pakan mandiri perlu didukung oleh tersedianya sumberdaya manusia yang “mumpuni” (kompeten).  Kompetensi SDM tersebut meliputi kompetensi teknis dan managerial serta jwa kewirausahaan yang tinggi.   Seringkali, usaha pembuatan pakan ikan mandiri yang dilakukan oleh pembudidaya hanya berupa kegiatan sampiangn yang bersifat coba-coba, dan usaha yang dilakukan tersebut tidak sungguh-sungguh. Kondisi demikian mengakibatkan tersendatnya produski pakan ikan mandiri yang dijalankan.  Ketidakseriusan pengembangan pakan mandiri tesebut kemungkinan besar diakibatkan oleh kemampuan teknis maupun managemen yang belum memadai, serta masih kurangnya jiwa kewirausahaan (enterpreunership).

 

Penyiapan SDM dalam pengembangan pakan ikan mandiri antara lain dapat dilakukan sebagai berikut:

 

 

    1. Identifikasi dan seleksi yang cukup ketat terhadap calon pelaku usaha pebuatan pakan ikan mandiri;

 

    1. Pelatihan teknis dan managerial yang dilakukan secara terprogram, sehingga  didapatkan calon pelaku yang betul-betul siap untuk mengembangkan usaha pakan mandiri;

 

    1. Pendampingan teknis dan managerial oleh pembina dari UPT Puast / Dinas Perikanan secara berkesinambungan.

 

 

Pada tahap awal, pengembangan industri pakan mandiri dapat memberdayakan para enterpreuner di kawasan pembudidayaan ikan yang selama ini secara swadaya telah mengembangkan pakan mandiri.  Kepada yang bersangkutan dapat dilakukan pembinaan dan pendampingan, untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi pakan ikan yang telah dikembangkan.

 

5)     Persepsi masyarakat

 

Produksi pakan ikan mandiri seringkali mengalami hambatan dalam pemasarannya, karena para pembudidaya sudah terbiasa menggunakan pakan ikan produksi pabrikan.  Persepsi pembudidaya ikan sering kali menganggap bahwa pakan ikan pabrikan lebih berkualitas, lebih mudah pengadaannya, lebih disukai oleh ikan yang dibudidayakan dan lebih efisien dalam penggunaannya; walaupun pada kenyataannya persepsi tersebut tidak selamanya benar adanya.  Kondisi tersebut tentunya perlu diperbaiki, agar para pembudidaya dapat menerima kehadiran pakan mandiri dan mempersepsikan bahwa penggunaan pakan mandiri justru lebih efisien dan sebagainya.  Untuk menjawab tantangan tersebut, perlu diupayakan langkah-langkah sebagi berikut:

 

 

    1. Meningkatkan kualitas pakan mandiri, sehingga memiliki kandungan nutrisi dan disukai oleh ikan budidaya sebagaimana pada pakan pabrikan;

 

    1. Mengupayakan ketersediaan pakan mandiri dapat terjamin sesuai kebutuhan masyarakat (baik jumlah maupun kualitasnya);

 

    1. Pengembangan usaha pakan mandiri sebaiknya melibatkan pembudidaya, sehingga pembudidaya mendapat bagian keuntungan dari usaha pakan mandiri yang dikembangkan;

 

    1. Perlu sosialisasi secara berkesinambungan untuk meyakinkan kelebihan dan keuntungan peggunaan pakan ikan mandiri.

 

 

6)      Konsistensi dalam kualitas dan kesinambungan produksi

 

Pakan mandiri harus tersedia secara berkesinambungan dengan kualitas tetap terjamin, sehingga pembudidaya terpelihara keyakinannya akan keuntungan dan kelebihan pakan mandiri, selanjutnya tercipta brand image pada diri pembudidaya untuk “bangga” menggunakan pakan ikan mandiri.    Menghadapi tantangan ini, produsen pakan mandiri dituntut untuk selalu konsisten dalam menerapkan SOP proses usaha yang dilakukannya.  Kelalaian dalam penerapan prosedur terstandar tersebut dapat mempengaruhi kualitas dan kontinuitas produk yang dihasilkan, yang berdampak lanjut timbulnya kekecewaan pengguna, sehingga dapat megiiring para pembudidaya kembali ke pangkaun pakan pabrikan.

 

Dalam upaya meningkatkan konsistensi kualitas dan kesinambungan produk pakan ikan mandiri, dapat dilakukan hal-hal sebagai berikut:

 

 

    1. Menjamin kesinambungan pasokan bahan baku, baik kualitas, kuantitas maupun harganya;

 

    1. Penggunaan peralatan dan mesin yang berkualitas, dan melakukan perawatan sesuai standar yang berlaku;

 

    1. Kontinuitas pembinaan penerapan standar operational prosedur (SOP) dalam seluruh proses produksi, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, penanganan pasca produksi sampai dengan pendistribusiannya;

 

    1. Melakukan akreditasi dan survailan secara berkala terhadap seluruh proses produksi pakan mandiri;

 

    1. Melakukan uji kualitas secara random sampling secara berkala terhadap produk pakan yang dihasilkan dan menyampaikan saran perbaikannya.

 

 

7)       Keberpihakan pemerintah dan pemerintah daerah

 

Produksi pakan ikan mandiri diharapkan dapat dikembangkan oleh para  pembudidaya, baik secara perorangan maupun dalam wadah kelompok dan koperasi.  Tidak mudah untuk mendorong para pembudidaya menjadi wirausahawan produsen pakan secara swadaya.  Aktivitas produksi yang dilakukan secara kecil-kecilan dan dengan modal yang sangat terbatas seringkali cepat kandas bila dihadapkan dengan kegiatan produksi yang dilakukan oleh pengusaha besar dengan permodalan yang besar pula.  Untuk itu perlu keterlibatan pemerintah dan pemerintah daerah secara aktif, baik pada tatanan perencanaan, implementasi pengembangan maupun pembinaan untuk kesinambungannya.

 

Adapun upaya yang perlu dilakukan oleh pemerintah guna melndukung dan mendorong pengembangan pakan ikan mandiri antara lain sebagai berikut:

 

 

    1. Menetapkan kebijakan  program pengembangan pakan ikan mandiri secara nasional, sehingga  kegiatan ini mendapat dukungan pendanaan yang memadai dari pemerintah;

 

    1. Mendorong pengembangan pasokan bahan baku pakan ikan khususnya industri tepung ikan secara khusus oleh BUMN / BUMD;

 

    1. Menyusun perencanaan program pengembangan pakan ikan mandiri secara nasional, selanjutnya dirinci lebih lanjut oleh setiap daerah;

 

    1. Mendorong berlangsungnya penelitian dan perekayasaan teknologi pakan ikan, sehingga tercipta  pakan yang paling produktif dan efisien, selanjutnya menerapkannya dalam tataran praktis di lingkungan industri pakan ikan mandiri.  Apabila diperlukan, dapat dibentuk unit-unit khusus yang bertugas untuk mengembangkan teknologi pakan ikan pada semua UPT yang ada di lingkungan Ditjen Perikanan Budidaya maupun Badan Litbang KP;

 

    1. Melakukan identtifikasi potensi pengembangan pakan ikan mandiri pada seluruh kawasan pembudidayaan ikan di Indonesia;

 

    1. Mengimplementasikan program pengembangan pakan ikan mandiri secara bertahap, diawali dengan pilot projek untuk mengkaji kiat keberhasilannya, untuk kemudian dikembangkan dalam skala massal;

 

    1. Memberikan dukungan penyediaan sarana dan prasarana serta permodalan untuk berlangsungnya pengembangan pakan ikan mandiri;

 

    1. Mendorong pembinaan teknis dan manageral terhadap industri pakan ikan mandiri, untuk menjamin kualitas dan kontinuitas produksi;

 

    1. Melakukan pengawasan secara ketat terhadap seluruh sub kegiatan implementasi program dan kebijakan.

 

 

Demikian secara singkat masukan untuk  mendukung kebijakan pengembangan pakan ikan mandiri di Indonesia, semoga bermanfaat adanya.
Sumber: http://www.djpb.kkp.go.id/