Jakarta (18/2/2015). Perikanan budidaya disamping terus didorong untuk meningkatkan produksinya juga dituntut untuk menjaga kualitas produksinya secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. Data sementara produksi perikanan budidaya tahun 2014 baik dari rumput laut dan ikan/udang adalah sebesar 14,52 juta ton, sedangkan target produksi tahun 2015 adalah sebesar 17,9 juta ton, yang terdiri dari ikan 7,6 juta ton dan rumput laut basah 10,3 juta ton. Kebutuhan pakan udang/ikan untuk memenuhi target produksi tersebut adalah sebesar 8,728 juta ton dimana 60 % nya merupakan kebutuhan pakan ikan air tawar seperti ikan mas, nila, gurame,patin dan lele.

 

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, mengatakan bahwa dari total produksi ikan budidaya, 60 % diantaranya berasal dari komoditas ikan air tawar. Dijelaskannya lagi bahwa komoditas ikan air tawar merupakan komoditas yang mendukung secara langsung program Ketahanan Pangan dan Gizi, sehingga Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dipimpin oleh Ibu Susi berupaya untuk mewujudkan Ketahanan Pangan dan Gizi tersebut melalui peningkatan produksi yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

 

Produk perikanan budidaya khususnya komoditas ikan air tawar tersebut, harus tahan dan kuat dalam menghadapi flutuasi harga dan nilai tukar rupiah sehingga harus ada kemandirian dalam upaya swasembada ikan.  “Untuk itu salah satu upaya yang dilakukan adalah mendorong Gerakan Pakan ikan Mandiri (GERPARI) yang bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku pakan ikan impor dan mendorong peningkatan penggunaan bahan baku local. Sehingga pembudidaya menjadi lebih mandiri dan mempunyai tingkat pendapatan yang lebih baik yang ujung-ujungnya akan secara langsung meningkatkan kesejahteraan masyarakat”, ungkap Menteri Susi.

 

Menindaklanjuti pertemuan antara Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT)  dengan Menteri Susi Pudjiastuti, maka telah di sepakati GPMT akan menurunkan harga pakan ikan Rp. 1.000,-/kg dalam waktu dekat. Menteri Susi lebih lanjut mengatakan bahwa KKP memberikan apresiasi yang tinggi kepada pabrik pakan ikan/udang atas niat baik dan dukungannya terhadap program pemerintah tersebut.

 

Pemerintah akan mendorong pembudidaya ikan air tawar jangan hanya sebagai buruh, tetapi harus di tingkatkan ke level pelaku usaha mikro dan kecil menengah (UMKM). Salah satu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan pendapatan pembudidaya tersebut dengan menaikkan margin usahanya. Sehingga dengan margin yang ada cukup untuk membayar investasi, biaya produksi, membayar upah karyawan dan bahkan melakukan investasi untuk mengembangkan usahanya. Biaya pakan merupakan biaya tertinggi dalam usaha budidaya air tawar sehingga Ibu Susi mengharapkan dapat diturunkan di bawah 60 % dari total biaya produksi. Salah satunya dengan menurunkan harga pakan disamping dengan upaya penggunaan induk unggul, benih bermutu serta sistem teknologi yang efisien dan ramah lingkungan.

 

Menteri Susi juga menambahkan bahwa penurunan harga pakan diharapkan akan mendorong pembudidaya untuk lebih bersemangat dalam melakukan usaha budidaya perikanan. “Penuruan harga pakan akan mendorong peningkatan investasi dan mendorong peningkatan produksi sekaligus akan meningkatkan produksi pakan ikan itu sendiri. Sehingga multiplier effect ini pada akhirnya akan sama-sama memberikan keuntungan bagi semua pihak yang berkecimpung dalam usaha perikanan budidaya”, papar Menteri Susi.

 

Menteri Susi menambahkan bahwa pemerintah telah membebaskan bea masuk bahan baku pakan seperti tepung ikan dan mendorong tumbuhnya pabrik tepung ikan di dalam negeri dan akan menyetop ekspor tepung ikan ke luar negeri.  Selanjutnya dikatakan bahwa KKP disamping sebagai regulator juga akan meningkatkan produksi tepung ikan dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan pabrik pakan ikan, tentunya sesuai syarat yang telah di tentukan. KKP juga akan mendorong produksi bahan baku pakan non tepung ikan sebagai substitusi tepung ikan. Salah satunya adalah dengan mengajak BUMN untuk mendukung produksi maggot dari limbah kelapa sawit yang dapat disalurkan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) kepada masyarakat tentunya di sentra-sentra atau wilayah yang dekat dengan perkebunan kelapa sawit. KKP juga akan menyediakan tenaga ahli formulator pakan untuk mendukung GERPARI dan tenaga-tenaga penyuluh lapangan yang handal dalam produksi pakan mandiri.

 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengatakan bahwa GERPARI bisa terlaksana jika ada kerjasama yang sinergi, kerja keras dan niatan yang baik  dari seluruh stake holder.  “Kita harapkan dengan cara ini permasalahan pakan dapat diatasi dan pemenuhan protein hewani dari ikan juga berhasil di penuhi melalui tercapainya peningkatan kemandirian dan swasembada produksi ikan yang telah ditetapkan” pungkas Slamet.
Sumber: http://www.djpb.kkp.go.id/