“Rajungan” atau Blue swimming crab (Portunus pelagicus) merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekspor penting bagi Indonesia. Permintaan pasar global yang meningkat setiap tahunnya mendorong pemenuhan kebutuhan tersebut. Akan tetapi, karena selama ini tergantung dari hasil penangkapan di alam, volume ekspor rajungan dan kepiting berfluktuasi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Pada 2012, ekspor kepiting dan rajungan mencapai 28.211 ton dengan nilai US$ 329,7 juta, meningkat menjadi 34.172 ton dengan nilai US$ 359,3 juta, pada tahun 2013 dan data sementara tahun 2014, volume ekspor rajungan dan kepiting sebanyak 28.090 ton dengan nilai US$ 414,3 juta.

Ketergantungan produksi rajungan dan kepiting dari hasil penangkapan alam mengakibatkan menurunnya jumlah populasi rajungan maupun kepiting. Hal ini mendorong Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang di pimpin oleh Ibu Susi Pudjiastuti untuk menerbitkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (PERMEN KP) No 1 tahun 2015 tentang Penangkapan Lobster, Kepiting dan Rajungan.

Upaya lain yang dilakukan oleh KKP adalah mendorong produksi rajungan, kepiting dan juga lobster dari budidaya sehingga produksinya tidak tergantung dari alam. Salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT)  di bawah Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya  (DJPB) yaitu Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar telah mampu membenihkan komoditas rajungan dan kepiting ini.

Benih rajungan dan kepiting yang di produksi oleh BPBAP Takalar, selain di gunakan untuk budidaya, juga disediakan untuk melakukan restocking (penebaran kembali) di alam. Setiap dua tahun sekali, BPBAP Takalar melakukan penebaran minimal 100.000 ekor crablet rajungan di habitat aslinya. Dampak nyata dari kegiatan restocking ini adalah peningkatan jumlah populasi rajungan dan kepiting di alam sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Penebaran benih rajungan yang dilakukan oleh Wakil Presides Jusuf Kalla dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti merupakan penebaran benih yang ke 2 juta ekor sejak tahun 2007. Lokasi penebaran di Pantai Boddia merupakan salah satu habitat rajungan, sehingga diharapkan mampu mendukung pelestarian rajungan di lokasi tersebut dengan di dukung penerapan Permen KP No. 1/2015.

Melalui usaha pembenihan, restocking benih dan pembatasan penangkapan kepiting, rajungan dan juga lobster ini maka usaha budidaya perikanan yang ramah laingkungan, efektif, efisien dan mendukung keberlanjutan akan dapat dijalankan dan pada akhirnya akan menciptakan keberlanjutan usaha-usaha perikanan termasuk rajungan dengan memperhatikan aspek ekologi, sosial dan ekonomi di masa yang akan datang, sehingga kita dapat mewujudkan visi keberlanjutan sumberdaya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Budidaya Udang Windu yang Hemat dan Ramah Lingkungan

Budidaya udang merupakan salah satu usaha yang menjanjikan dan mempunyai nilai ekonomis tinggi. Terobosan teknologi baik dari segi teknologi budidaya maupun teknologi sarana dan prasaran pendukung terus dikembangkan.

Salah satu teknologi sarana budidaya udang yang telah dikembangan oleh BPBAP Takalar adalah penggunaan bahan bakar gas (BBG) untuk mendukung usaha budidaya udang. Biaya yang diperlukan untuk bahan bakar dalam satu musim budidaya udang mencapai 25 % dari total biaya. Bahan bakar ini terutama diperlukan untuk menggerakkan kincir dan pompa air. Dengan rekayasa penggunaan BBG dalam usaha budidaya udang ini maka, biaya bahan bakar dapat dihemat hingga 25 %.

Sebagai contoh, petambak dengan dua kincir dan satu pompa menghabiskan 1.400 liter solar serta 160 liter premium untuk satu musim budidaya selama 70 hari. Satu musim keluar biaya sekitar Rp 12 juta untuk beli bahan bakar. Dengan menggunakan BBG maka biaya yang dikeluarkan bisa di hemat menjadi Rp. 3 – Rp. 4 juta per musim. Ini akan meningkatkan keuntungan petambak dan sekaligus mengurangi ketergantungan petambak akan BBM yang harganya akan semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Teknologi ini juga ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan perairan dan tanah di sekitar tambak. Penggunaan teknologi akan terus dikembangkan dan disebarkan sehingga mampu digunakan secara mudah dan murah oleh masyarakat. Di samping itu, penggunaan teknologi ini, selaras dengan kebijakan Pembangunan Perikanan Budidaya yaitu Mandiri, Berdaya Saing dan Ramah Lingkungan.

Sumber : http://www.djpb.kkp.go.id