Pengembangan usaha budidaya udang merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi udang nasional dan sekaligus memberdayakan masyarakat yang tinggal di daerah pesisir yang memiliki potensi untuk pengembangan lahan budidaya udang. Seperti yang terdapat di wilayah Kabupaten Mamuju Utara, Sulawesi Barat. “Wilayah Kabupaten Mamuju Utara memiliki potensi pengembangan usaha budidaya udang. Lahan di wilayah ini cukup bagus untuk melakukan usaha budidaya dengan sistem tradisional plus, sehingga memberikan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan bagi masyarakat. Potensi lahan seluas 13.000 ha di Mamuju Utara apabila dikembangkan secara optimal dan ramah lingkungan, per hektarnya dapat dihasilkan kurang lebih 2 ton udang size 60 per musim tanam atau 6 ton per tahun. Ini akan mendukung produksi udang nasional”, demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, disela-sela mendampingi Kunjungan Kerja Presiden RI, Joko Widodo, di kawasan tambak Desa Pajalele, Kec. Tikke Raya, Kab. Mamuju Utara, Sulawesi Barat.

Dalam kurun lima tahun terakhir, produksi udang nasional meningkat cukup signifikan yaitu 13,9 % per tahun. “Dengan melihat potensi lahan dan potensi pengembangan serta teknologi yang sudah kita miliki, produksi udang nasional tahun 2015 ditargetkan sebesar 785.900 ton, atau meningkat sekitar 32 % dari produksi udang tahun 2014 (angka sementara : 592 ribu ton)”, terang Slamet.

Pencapaian target produksi udang tersebut harus dicapai melalui optimalisasi sumber daya alam secara arif dan berkelanjutan. “Sesuai arahan Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti, saat ini kita focus pada pemanfaatkan lahan-lahan tambak idle atau revitalisasi lahan yang sudah ada. Kita kembangkan budidaya udang tanpa merusak lingkungan, seperti mengurangi atau menggeser keberadaan mangrove yang sudah ada di sepanjang pantai. Bahkan kita dorong petambak untuk menanam mangrove sebagai penjaga kelestarian lingkungan di sekitar tambak”, papar Slamet.

Budidaya udang di Kab. Mamuju Utara saat ini menggunakan teknologi tradisional plus. “Budidaya udang tradisional plus sudah cukup untuk meningkatkan pendapatan para petambak. Seperti disampaikan Bapak Presiden bahwa pendapatan petambak udang kurang lebih bisa mencapai Rp. 360 juta per hektar per tahun, yang diperoleh dari penebaran benih 150 ribu ekor per hektar. Hasil ini cukup menggembirakan. Karena usaha budidaya udang yang memperhatikan lingkungan dan tidak serakah dalam pengelolaannya akan mampu meningkatkan produktivitas lahan dan dapat diusahakan secara berkelanjutan”, jelas Slamet.

Ke depan, usaha budidaya udang di Kabupaten Mamuju Utara ini juga akan diarahkan untuk memenuhi kaidah Good Aquaculture Practices (GAP), sehingga akan menghasilkan udang yang berkualitas. “Peningkatan kualitas produksi perlu dilakukan, terlebih dalam menghadapi persaingan dan tantangan pasar bebas, baik regional maupun global. GAP atau Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) akan mendorong peningkatan efisiensi dan kemandirian. Selain itu juga akan memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan. Dan hal ini selaras dengan kebijakan pembangunan perikanan budidaya yaitu Menuju Perikanan Budidaya yang Mandiri, Berdaya Saing dan Berkelanjutan”, pungkas Slamet.

 

Sumber : http://www.djpb.kkp.go.id