Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meningkatkan fokusnya untuk mengembangkan dan memanfaatkan potensi kelautan yang dimiliki. Salah satunya adalah dengan terus mengembangkan budidaya laut dan diversifikasi komoditas budidaya laut. Bawal bintang adalah komoditas baru yang menjadi unggulan perikanan budidaya laut dan usaha pengembangan yang saat ini dilakukan adalah melalui pelaksanaan kegiatan Demonstration Farm (Demfarm) budidaya bawal bintang di karamba jaring apung (KJA) yang berlokasi di Teluk Bumbang, Desa Mertak, kec. Pujut, Lombok Tengah.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, mengatakan bahwa mulai tahun 2015 ini, Bawal Bintang menjadi salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya. “Target produksi bawal bintang di tahun 2015 masih 1.900 ton. Namun, target pertumbuhannya dalam kurun waktu lima tahun ke depan adalah 31,5% per tahun. Bawal bintang akan menjadi salah satu komoditas alternative budidaya laut atau marikultur. Harga jualnya cukup bersaing, sekitar Rp. 60 ribu – 70 ribu per kilogram. Waktu budidayanya juga lebih cepat dibanding kerapu, yaitu 6 bulan dari ukuran benih tebar serta lebih mudah dalam pemeliharaannya”, papar Slamet.

Demfarm budidaya bawal bintang ini, dilaksanakan dan di kawal teknologinya oleh Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok. Penebaran perdana di lokasi demfarm tersebut dilakukan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, kurang lebih sebanyak 15 ribu ekor benih bawal bintang, ukuran 5 – 6 cm. “Demfarm ini akan di laksanakan di tiga lokasi yaitu di Teluk Bumbang (Lombok Tengah), Telong Elong (Lombok Timur) dan Bungin (Sumbawa). Kita harapkan dengan demfarm ini, masyarakat sekitar akan mencontoh dan menduplikasi teknologi yang diterapkan sehingga diperoleh hasil yang maksimal dari budidaya yang dilakukan. Sebagai tambahan, bahwa di KJA percontohan ini DJPB-KKP memberikan bantuan awal berupa benih, pakan dan jaring”, terang Slamet.

Penanggulangan Dampak Permen KP No. 1/2015

Slamet menambahkan bahwa program demfarm budidaya bawal bintang ini adalah sebagai bagian dalam mengatasi dampak Permen KP No 1 Tahun 2015, tentang Penangkapan Lobster (Panulirus spp), Kepiting (Scylla spp.) dan Rajungan (Portunius pelagicus). “Dalam peraturan tersebut diatur tentang penangkapan benih dan induk lobster, yang tentunya sangat berpengaruh bagi pendapatan masyarakat, khususnya di Lombok yang terbiasa melakukan penangkapan benih lobster untuk di jual atau di ekspor. Melalui demfarm ini, para nelayan atau masyarakat sekitar dikenalkan dengan cara budidaya bawal bintang yang ramah lingkungan untuk mendukung keberlanjutan. Dengan menerapkan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan di kawal oleh BPBL Lombok, kita harapkan masyarakat dapat mengadopsi dan menerapkannya sehingga tidak tergantung lagi dari penangkapan benih lobster yang dapat mengganggu populasi lobster di alam dan merugikan para nelayan di masa mendatang”, terang Slamet.

Kegiatan lain yang dilaksanakan sebagai salah satu komitmen KKP untuk menanggulangi dampak akibat penerapan Permen tersebut adalah kegiatan  budidaya rumput laut dan pembibitan rumput laut. “Rumput laut adalah komoditas utama perikanan budidaya. Budidaya rumput laut dapat menyerap tenaga kerja, memiliki pasar yang tidak terbatas dan produksinya sangat beragam. Saat ini, Indonesia adalah produsen terbesar dunia untuk rumput laut Eucheuma cottonii. Masih banyak jenis rumput lain yang bisa dikembangkan, seperti Gracilaria atau Sargassum. Jadi, usaha budidaya perikanan dapat menjadi solusi atas masalah pelarangan penangkapan benih dan induk lobster bertelur. Masyarakat tidak perlu khawatir kehilangan mata pencaharian. Di situ ada kemauan, pasti ada jalan”. imbuh Slamet

Bantuan dari KKP melalui DJPB pada tahun 2015 terkait penanggulangan dampak Permen No. 1 Tahun 2015 di Propinsi Nusa Tenggara Barat mencakup pelaksanaan demfarm budidaya bawal bintang, budidaya rumput laut dan pembibitan rumput laut, bantuan KJA dan bantuan melalui Program Pemberdayaan Usaha Mina Mandiri (PUMM). “Semua bantuan tersebut akan melibatkan masyarakat yang terkena dampak permen tersebut dengan jumlah kelompok sebanyak 74 kelompok dengan total keseluruhan anggota sebanyak 855 orang. Tentunya kita harapkan dari bantuan ini akan memunculkan optimism masyarakat dalam melakukan usaha budidaya perikanan. Dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pembudidaya khususnya dan masyarakat sekitarnya”, pungkas Slamet.

 

Sumber : www.djpb.kkp.go.id