Dulu pembudidaya ikan bandeng umumnya menggunakan pakan alami untuk pertumbuhan. Mereka hanya menebar benih dan membiarkan ikan besar sendiri selama 6 bahkan 1 tahun lamanya. Namun kini sebagian periode pemeliharaan ikan bandeng diberikan pakan pelet dengan kandungan protein 25 % untuk mempercepat pertumbuhan, setidaknya selama 2-3 bulan.

 

Sebagaimana diungkapkan Nutrisionis Pakan Ikan dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara Fairus Mai Soni, penggunaan pakan buatan dapat mempercepat pertumbuhan ikan bandeng. “Namun harga pakan yang relatif tinggi mengakibatkan keuntungan petambak menjadi sedikit,” sebutnya.

 

Dia sebutkan, ikan bandeng merupakan salah satu ikan yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, Sulawesi, dan Aceh. Budidaya ikan bandeng banyak dilakukan di tambak tambak tradisional disekitar pantai utara Jawa. Aneka macam pengolahan ikan bandeng mempunyai andil dalam meningkatkan permintaan pasar. Diantaranya seperti, bandeng presto, bandeng asap, otak-otak bandeng, hingga cheese stick tulang bandeng.

 

“Pasar yang cukup terbuka ini sepertinya belum memberikan keuntungan yang seimbang bagi petambak. Keuntungan yang diperolah petambak sangat minim tidak seimbang dengan yang diupayakan,” jelasnya.

 

Rendah Protein

 

Menurut Fairus, sudah saatnya pelaku pembudidaya tidak terperangkap dalam pemikiran bahwa untuk menumbuhkan bandeng harus menggunakan pakan berprotein tinggi. Selama ini, kata Fairus keterbatasan sistem pencernaanlah yang membuat alasan bahwa untuk memacu pertumbuhan  harus menggunakan protein tinggi.

 

Imbasnya, lanjut Faisrus, pembudidaya harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pakan berprotein tinggi tersebut. Sementara biaya produksi  terbesar ada di biaya pakan bahkan beberapa jenis ikan lebih dari menggunakan protein sebesar 60%.

 

Atas keadaan itu, Fairus melakukan riset sejak 3 tahun lalu tentang budidaya ikan bandeng di tambak rakyat dengan menggunakan pakan rendah protein sebagai alternatif peningkatan pendapatan petambak. ”Pemeliharaan ikan bandeng dengan teknologi sederhana telah dikembangkan di tambak rakyat di Desa Ujung Watu, Kecamatan Donorejo, Kabupaten Jepara,” terangnya.

 

Dia paparkan, yang dimaksud rendah protein, adalah pakan yang diberikan seharusnya 20%, namun hanya diberikan pakan dengan kandungan protein 15%. Sehingga, dengan penurunan protein sebesar 5 %, akan ada efisiensi biaya sebesar Rp 1.250.  “Secara teori harga per 1 % protein sekitar Rp 250, oleh itu kalau protein bisa diturunkan sampai 10 % sudah berapa banyak efisiensi biaya  untuk beli pakan,” jelasnya.

 

Namun, menurut Fairus, dengan menurunkan kadar protein, sebagai penggantinya adalah karbohidrat yang lebih murah. Hanya, karbohidrat yang ditambahkan tidak dapat dicerna oleh ikan kalau tidak ada enzim yang bekerja pada sistem pencernakan ikan. “ ntuk itulah saya berikan enzim produk kami sebagai pekerja untuk membantu karbohidrat tersebut,” jelasnya.

 

Lanjutnya, penggunaan pakan formulasi dengan rendah protein di tambahkan enzim merupakan salah satu terobosan teknologi dibidang nutrisi. Hal ini karena, peran enzim akan membantu mengubah karbohidrat menjadi sumber energi perbanyakan sel tubuh ikan, sehingga pertumbuhan ikan tetap akan tumbuh cepat. “Karbohidrat inilah yang akan dikerjakan oleh enzim untuk dirubah menjadi energi yang selanjutnya menjadi sel otot dan daging ikan,” tuturnya.

 

Keuntungan Lebih Besar

 

Diterangkan Fairus, dengan menggunakan penerapan teknologi yang berbasis ilmu pengetahuan dasar, budidaya ikan bandeng dapat menjadi suatu usaha yang memberikan keuntungan finansial tinggi. Beberapa petani memilih budidaya ikan bandeng karena alasan, bahwa kepastian keberhasilan cukup tinggi dan jarang terserang penyakit walaupun keuntungannya relatif kecil.

 

Hasil pemeliharaan ikan bandeng dengan menggunakan pakan formula rendah protein yang diperkaya dengan enzim, ternyata mampu memberikan hasil yang signifikan (lihat tabel). Akhir dari pemeliharaan selama 5 bulan semenjak penebaran gelondongan (bibit ikan bandeng berukuran 7-8 cm), panen ikan pada tambak kontrol diperoleh hasil 1.710-1.770 kg dengan ukuran 300-310 gram/ekor dengan FCR (Konversi pakan) 1.93-1.87.

 

Hasil panen ikan menggunakan pakan diperkaya dengan enzim diperoleh hasil 2.590-2.700 kg dengan FCR 1.27-1.22. Dari hasil panen tersebut, kata Fairus, mampu memberikan selisih keuntungan sebesar 196 – 225% dibandingkan dengan pemeliharaan dengan pemberian pakan protein lebih tinggi. “Telah dibuktikan selama dua kali pemeliharaan, perolehan keuntungan cukup tinggi dari keuntungan Rp 7 – 8 juta/ha/musim meningkat menjadi Rp 21 – 26 juta,” terangnya.

 

Sumber : trobos.com (teknologi dari Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara)