Bogor – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, mengatakan kondisi ekonomi global yang tidak menentu, ditambah depresiasi rupiah terhadap dollar Amerikas Serikat (AS) yang sudah menembus lebih dari Rp 14.000 per US$, tentu saja mempengaruhi biaya produksi perikanan budidaya, terutama terkait meroketnya harga pakan, mengingat sebagian besar bahan baku berupa tepung ikan berasal dari impor.

“Kondisi ekonomi yang masih belum stabil, dan ditambah lagi depresiasi rupiah tentu mempengaruhi produksi perikanan budidaya nasional terutama di biaya pakan karena ikut naik seiring kenaikan dollar AS,” kata Slamet saat berbincang dengan Neraca, sesaat setelah menghadiri acara Lokakarya Penyusunan Indikator Penilaian Pedoman Umum Ecosystem Approch To Aquaculture, di Bogor, Jawa Barat, Rabu Malam (2/9).

Itu sebabnya, tambah Dirjen Slamet, salah satu upaya yang harus dipacu adalah memujudkan kedaulatan dan kemandirian berbudidaya yang berkelanjutan dengan melihat efek dan dampak lingkungan yang benar. Karena jika tidak melihat dampak lingkungan akan berakibat fatal. “Upaya yang harus dipacu untuk mengantisipasi gejolak ekonomi dunia dan antisipasi depresiasinya rupiah tentu dengan kemandirian dan kedaulatan karena itu sudah menjadi harga mati. Di tambah lagi tentu berbudidaya secara berkelanjutan tanpa merusak lingkungan karena jika tidak melihat kondisi lingkungan akan bunuh diri karena itu sudah menjadi hukum alam, melestarikan alam tapi juga menjaganya,” tambahnya.

Menurut dia, upaya memacu kedaulatan dan kemandirian memang sudah digaungkan jauh-jauh hari sebelum kondisi ekonomi maupun dollar seperti sekarang. “Tapi memang Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan meminta sedari menjabat Menteri KKP, langkah awal yang diminta kepada saya adalah untuk membangun perikanan budidaya yang berdaulat dan mandiri. Memang upaya untuk kedaulatan dan kemandirian sudah sering kita gaungkan, sekarang tinggal terus dipacu lebih kencang lagi,” ujarnya.

Yang harus mandiri, lanjut Dirjen, salah satunya adalah pakan ikan. Karena memang biaya terbesar dari perikanan budidaya adalah pakan ikan yang menyedot hingga 70 persen dari total biaya produksi. “Jadi jika kita bisa membuat pakan secara mandiri akan sangat membantu menaikan margin para pembudidaya. Jika tidak membuat pakan secara mandiri, margin pembudidaya sangat kecil, 70 persen untuk pakan, belum benih dan bayar pekerja. Makanya kami anjurkan untuk membuat pakan mandiri untuk menurunkan cost produksi,” paparnya.

Salah satu upaya mewujudkan kemandirian adalah program Gerakan Pakan Mandiri (Gerpari) yang terus disosialisasikan kepada pera pembudidaya. “Tak henti-hentinya dan akan terus kami kejar adalah bagaimana merealisasikan program Gerpari yang kami yakini akan mampu menekan cost produksi pembudidaya dan mampu mewujudkan kemandirian pakan nasional. Sehingga tidak lagi ketergantungan pakan yang berbahan baku impor. Dengan mewujudkan program Gerpari kalaupun terjadi gejolak ekonomi global dan depresiasi rupiah dampaknya tidak terlalu signifikan seperti sekarang,” tuturnya.

Slamet Soebjakto menyebutkan program Gerpari yang awalnya ditargetkan berjalan selama lima tahun, kini dipercepat. “Kami menargetkan dalam waktu dua tahun program ini sudah menuai sukses. Paling tidak di tahun 2017 seluruh pembudidaya sudah bisa membuat pakan secara mandiri. Kami tidak ingin berlama-lama tahun 2017 program ini sudah 100 persen berjalan,” tegasnya.

Gandeng WWF

Melihat pentingnya perikanan budidaya yang akan menjadi masa depan dari bisnis perikanan dunia, maka Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP menggandeng WWF Indonesia dalam rangka melaksanakan praktik perikanan berlandaskan pendekatan ekosistem. “Menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akhir tahun 2015 ini, tentu berbudidaya dengan pendekatan ekosistem sangat diperlukan. Makanya kami dari Direktorat Budidaya bekerjasama dengan WWF Indonesia untuk melakukan pendekatan berbudidaya yang berkelanjutan dengan pendekatan ekosistem,” ujarnya.

Seperti diketahui, guna pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, berdasarkan dokumen Code of Conduct Responsible Fisheries (CCRF), urgensi untuk melaksanakan praktik perikanan berlandaskan pendekatan ekosistem mutlak dilakukan sebelum terlambat. Pada perikanan tangkap, pendekatan secara holistik tersebut dikenal sebagai Ecosystem Approach to Fisheries Management(EAFM).

Sedangkan pada perikanan budidaya disebut dengan Ecosystem Approach to Aquaculture (EAA). EAA mempunyai tiga tujuan utama, yaitu memastikan kesejahteraan manusia, memastikan kesejahteraan lingkungan, dan memfasilitasi pencapaian dari keduanya.

 

Sumber : http://www.neraca.co.id