Jakarta, Industri perikanan tangkap dan budidaya perikanan masih akan menjadi tumpuan utama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk menggenjot produksinya pada 2016 mendatang. Dua sektor tersebut dipilih, karena produksinya selama ini selalu mendominasi dibandingkan sektor lain.

Sekretaris Jenderal KKP Sjarief Widjaja di Jakarta, Selasa (29/12/2015) mengatakan, untuk produksi perikanan secara keseluruhan dari kuartal I hingga III 2015 terjadi peningkatan signifikan. Pada kuartal I, produksi mencapai 4,36 juta ton dan kemudian naik signifikan menjadi 15,35 juta ton pada kuartal III.

“Hal itu, menunjukkan bahwa kinerja perikanan dan kelautan terus membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Ini yang akan terus kita jaga di tahun 2016. Jika terus dipertahankan, itu akan membawa kesejahteraan kepada masyarakat,” tutur dia.

Nelayan melakukan bongkar muat ikan hasil tangkapan, termasuk ikan tuna di Pelabuhan Perikanan Sadeng, Gunung Kidul, Yogyakarta pada akhir November 2015. Foto : Jay Fajar

Nelayan melakukan bongkar muat ikan hasil tangkapan, termasuk ikan tuna di Pelabuhan Perikanan Sadeng, Gunung Kidul, Yogyakarta pada akhir November 2015. Foto : Jay Fajar

Kenaikan signifikan tersebut, dijelaskan Sjarief, berasal dari sektor perikanan tangkap, budidaya perikanan, dan budidaya rumput laut. Kara dia, kondisi tersebut harus terus dipertahankan pada tahun depan untuk mencapai kesejahteraan laut.

Indikator lain yang menjelaskan kinerja KKP membaik, menurut Sjarief, adalah naiknya nilai tukar nelayan pada 2015. Pada kuartal III 2014, NTN masih berada di angka 104,26, tapi kemudian angkanya naik signifikan pada kuartal III 015 menjadi 106,12.

“Selain itu, indikator lain juga terlihat dari peningkatan ekspor ikan tuna. Dan itu kondisinya berbeda dengan negara tetangga seperti Thailand dan Filipina yang justru mengalami penurunan. Ekspor ke AS misalnya, terjadi peningkatan hingga 7,73 persen dibandingkan 2014,” sebut dia.

Investasi Perikanan

Kenaikan juga terlihat dari investasi unuk perikanan yang terjadi sepanjang 2015. Menurut Sjarief, investasi mengalami kenaikan dalam empat tahun terakhir, termasuk di dalamnya adalah investor asing dan dalam negeri.

Hingga kuartal III 2015, nilai investasi investor asing sudah mencapai Rp521.385 miliar, sementara investor dalam negeri sudah menanamkan investasinya sebesar Rp271.729 miliar. Capaian tersebut jauh lebih baik dibandingkan periode sebelumnya.

Meningkatnya produksi perikanan, kemudian diikuti dengan peningkatan konsumsi ikan nasional. Kata Sjarief, itu menunjukkan bahwa kondisi perikanan dan kelautan nasional terus berkembang baik.

Proyeksi Perikanan 2016

Sebagai bagian dari industri perikanan nasional, perikanan budidaya menjadi bagian tak terpisahkan. Untuk 2016, perikanan budidaya menargetkan produksi ikan hingga 19,67 juta ton dan produksi ikan hias sebanyak 1,9 miliar ekor. Sementara, untuk nilai tukar petani budidaya, ditargetkan bisa mencapai 102,25.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebijakto menjelaskan, proyeksi 2016 menjadi hal penting untuk mewujudkan perikanan budidaya sebagai penyuplai utama untuk kebutuhan ikan nasional.  Karenanya, dia berjanji akan menggenjot produksi budidaya perikanan hingga lebih baik dari 2015.

“Kalau sekarang kita kembangkan 10 spesies untuk andalan produksi, maka 2016 kita akan tambah lagi jumlahnya. Harapannya, perikanan budidaya bisa menggantikan perikanan tangkap yang sudah semakin terbatas produksinya,” tutur dia.

Sumber : KKP 2015

Sumber : KKP 2015

Sementara, Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Narmoko Prasmadji mengungkapkan, untuk proyeksi 2016 pihaknya menargetkan produksi mencapai 6,45 juta ton. Kemudian, pihaknya akan fokus untuk melaksanakan penyaluran bantuan kapal sebanyak 3.325 unit kepada nelayan.

Prioritas 2016

Terkait proyeksi 2016, Sjarief Wijdaja mengatakan, ada program kerja yang menjadi prioritas untuk dilaksanakan pada tahun depan. Termasuk, pengadaan 13.872 alat tangkap untuk nelayan dan juga kapal 3.325 unit untuk nelayan.

Di luar itu, KKP juga memiliki program prioritas lain seperti asuransi nelayan sebanyak 1 juta, sertifikasi tanah mencakup 20.000 bidang tanah nelayan dan 15.000 bidang tanah pembudidaya.

“Semua itu, dilakukan, untuk mendukung terwujudnya perikanan dan kelautan yang baik. Industri perikanan nasional juga bisa berkembang baik,” tandas dia.

 

Sumber : http://www.mongabay.co.id