Pakan adalah kebutuhan utama dalam suatu usaha perikanan budidaya, karena selain dibutuhkan untuk pertumbuhan ikan juga merupakan sumber biaya yang paling besar dalam proses produksi budidaya. Untuk meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan, salah satunya adalah dengan mengurangi biaya produksi pakan, melalui penggunaaan pakan ikan mandiri.

Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI) yang telah digaungkan sejak tahun 2015, bertujuan untuk mendorong kemandirian kelompok masyarakat dalam memproduksi pakan ikan secara mandiri dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“GERPARI tetap menjadi salah satu program unggulan perikanan budidaya. Melalui GERPARI akan terbentuk kelompok-kelompok baru yang mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan perekonomian daerah dan memanfaatkan sumberdaya alam daerah sebagai bahan baku lokal pakan ikan”, demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, di sela-sela peresmian Mini Plant Pakan Ikan Mandiri di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi.

“Pakan ikan mandiri yang diproduksi oleh BBPBAT Sukabumi ini telah memanfaatkan bahan baku lokal seperti tepung ikan, tepung tapioca, dan juga eceng gondok. Hasilnya pun tidak mengecewakan. Dengan kandungan protein sekitar 30 %, sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), dapat dimanfaatkan untuk budidaya lele, nila dan patin. Harganya pun relative terjangkau, yaitu Rp. 5.000 per kg”, terang Slamet.

Slamet menambahkan bahwa Mini Plant Pakan Ikan Mandiri yang di bangun di BBPBAT Sukabumi ini, merupakan tempat magang terkait pembuatan pakan ikan mandiri. “Dengan kapasitas produksi 1,2 ton per hari, Mini plant ini, juga merupakan tempat percontohan pabrik pakan ikan mandiri. Dan bagi perekayasa, lokasi ini dapat enjadi tempat untuk melakukan perekayasaan terkait formulasi pakan, sehingga menghasilkan pakan ikan mandiri yang efisien dan memanfaatkan bahan baku lokal”, jelas Slamet.

“Hasil perekayasaan BBPBAT Sukabumi yang berupa enzim Mina Grow, juga dapat dikombinasikan penggunaannya dalam produksi pakan ikan mandiri ini, sehingga semakin meningkatkan efisensi pakan ikan yang diproduksi dan pada akhirnya mampu meningkatkan produksi”, tambah Slamet.

Pemanfaatan Eceng Gondok

Eceng gondok yang selama ini menjadi gulma di perairan umum, telah dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber bahan baku pengganti dedak. “Setelah di buat tepung, kadar proteinnya hampir sama dengan dedak halus yaitu 12,51 %. Saat ini harga dedak di pasaran sekitar Rp 3 ribu – 4 ribu/kg, sementara tepung eceng gondok perkiraan harganya sekitar Rp 1.000/kg”, papar Slamet

“Hal ini merupakan solusi bagi permasalahan eceng gondok di beberapa waduk atau perairan umum. Dan apabila terus dikembangkan dengan menggunakan aplikasi teknologi pakan yang lain seperti teknologi bioflok dan enzim, saya yakin, efisiensi pakan akan meningkat dan ini akan menguntungkan”, ujar Slamet.

Pembudidaya di KJA maupun pengelola waduk dapat membantu mengumpulkan eceng gondok, untuk kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan. “Dengan pemanfaatan eceng gondok sebagai alternative bahan baku pakan ini, maka permasalahan gulma eceng gondok sedikit demi sedikit akan dapat diatasi dengan solusi yang positif. Pembudidaya dapat mengumpulkan eceng gondok di sekitar KJA nya untuk kemudian diolah menjadi tepung, dan ini dapat dikelola secara kelompok sehingga bisa lebih menguntungkan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar”, jelas Slamet.

“Ke depan, solusi permasalahan gulma enceng gondok ini akan terus dikembangkan dengan mengajak stake holder yang terkait. Seperti Badan Pengelola Waduk, Pabrikan Pakan dan juga Kelompok Pembudidaya. Kemudian UPT perikanan budidaya melakukan pembinaan serta alih teknologi penepungan eceng gondok ini. Sehingga dari sebelumnya merupakan gulma menjadi sumber pendapatan. Sinergi positif yang menghasilkan peningkatan kesejahteraan dan menuju perikanan budidaya yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan”, pungkas Slamet.

 

Sumber : http://www.djpb.kkp.go.id