Jakarta – Eceng gondok yang selama ini menjadi gulma atau tanaman liar di perairan umum, ternyata dapat dimanfaatkan sebagai satu sumber bahan baku pengganti pakan ikan. Menurut Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, ini merupakan solusi bagi permasalahan eceng gondok di beberapa waduk atau perairan umum. Menurutnya, apabila dikembangkan dengan teknologi canggih, pakan ikan seperti eceng gondok dapat mengefisiensikan pakan ikan bagi pembudidaya.

“Hal ini merupakan solusi bagi permasalahan eceng gondok di beberapa waduk atau perairan umum. Dan apabila terus dikembangkan dengan menggunakan aplikasi teknologi pakan yang lain seperti teknologi bioflok dan enzim, saya yakin, efisiensi pakan akan meningkat dan ini akan menguntungkan”, ujar Slamet saat meresmikan Mini Plant Pakan Ikan Mandiri di Sukabumi, Selasa (5/1).

Pembudidaya jenis Keramba Jaring Apung (KJA) maupun pengelola waduk dapat membantu mengumpulkan eceng gondok, untuk kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan. Dengan pemanfaatan eceng gondok sebagai alternative bahan baku pakan ini, maka permasalahan gulma eceng gondok sedikit demi sedikit akan dapat diatasi dengan solusi yang positif.

“Pembudidaya dapat mengumpulkan eceng gondok di sekitar KJA nya untuk kemudian diolah menjadi tepung, dan ini dapat dikelola secara kelompok sehingga bisa lebih menguntungkan sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar”, lanjutnya.

Slamet menjelaskan, setelah di buat tepung, maka kadar proteinnya hampir sama dengan pakan ikan halus yaitu 12,51 %. Dengan kadar yang lebih tinggi dan harga yang lebih ekonomis, memungkinkan pembudidaya meraup laba. “Saat ini harga dedak di pasaran sekitar Rp 3 ribu – 4 ribu/kg, sementara tepung eceng gondok perkiraan harganya sekitar Rp 1.000/kg”, papar Slamet.

Ke depan, solusi permasalahan gulma enceng gondok ini akan terus dikembangkan dengan mengajak stake holder yang terkait. Seperti Badan Pengelola Waduk, Pabrikan Pakan dan juga Kelompok Pembudidaya. Kemudian UPT perikanan budidaya melakukan pembinaan serta alih teknologi penepungan eceng gondok ini.

“Mengolah gulma menjadi sumber pendapatan merupakan sinergi positif yang menghasilkan peningkatan kesejahteraan dan menuju perikanan budidaya yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan”, pungkas Slamet.

 

Sumber : http://kkpnews.kkp.go.id