Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) telah menyiapkan enam langkah preventif dan antisipatif dalam menekan laju kematian ikan massal. Pasalnya, pada tanggal 19 Februari 2016 lalu terjadi kematian massal ikan Mas dan Nila sebanyak 5 ton dari sekitar 30 KJA  yang dipelihara di Nagari Bayur, Maninjau, dan Kuto Duo Danau Maninjau, Sumatera Barat.

Plt Kepala Balitbang KP, yang juga Dirjen Peningkatan Days Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Nilanto Perbowo mengatakan bahwa kematian ikan yang terjadi setiap tahun adalah akibat akumulasi turunnya kualitas air yang disebabkan oleh overcapacity KJA, naiknya sulfur, dan terjadinya umbalan di Danau Maninjau. Untuk mencegah kematian ikan lebih luas, pertama-tama Balitbang KP akan melakukan penataan zonasi danau dengan menghindari lokasi sumber sulfur.

“Lokasi KJA yang terutama padat di bagian utara dan pinggir danau harus dipindahkan ke lokasi lain dengan kualitas air lebih baik dan lebih ke tengah danau dengan kedalaman air lebih dari 20 meter,” ujar Nilanto di Jakarta, Jumat (26/2).

Kedua, lanjut Nilanto, berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, daya dukung Danau Maninjau hanya 1.080 ton ikan atau setara dengan 6500 unit KJA. Sedangkan jumlah KJA tahun 2015 sekitar 15.000 unit, pada tahun 2016 telah melonjak menjadi sekitar 18.000 unit sehingga harus dikurangi sekitar 12.000 unit disesuaikan dengan daya dukung potensi produksi lestari danau tersebut.

“Ketiga penerapan sistem peringatan dini dengan cara mengurangi biomasa ikan yang dipelihara menjadi seminimal mungkin. Kelebihan biomasa ikan yang dipelihara akan menambah beban nutrien di perairan sehingga akan terjadi degradasi kualitas perairan terutama menjelang kondisi cuaca ekstrim dan penurunan kelarutan oksigen serta fenomena tubo belerang,” jelas dia.

Keempat, pemeliharaan ikan yang lebih toleran terhadap kandungan oksigen rendah pada periode cuaca ekstrim, misalnya ikan Patin Siam atau Pangasianodon hypopthalamus. Kelima, pengendalian blooming alga sebagai ekses dari budidaya KJA dengan cara introduksi ikan pemakan plankton, misalnya ikan Ringo (Datnoides mecrolepis) yang banyak terdapat di waduk Koto Panjang, Riau.

“Keenam, introduksi teknologi penanganan dan pengolahan ikan, seperti penggunaan rantai dingin, silase, ikan asin dan olahan lainnya pada saat terjadi kematian massal ikan budidaya,” lanjut dia.

Selain itu, Balitbang KP telah memfasilitasi para pembudidaya ikan di Danau Maninjau terkait pemantauan kualitas air melalui Buoy PLUTO yang telah dipasang di  Kuto Gadang, Kuto Melintang, dan Sungai Batang untuk dapat memberikan informasi awal sebagai peringatan dini (early warning) sebelum kematian ikan budidaya.

“Hasil pemantauan alat Buoy PLUTO yang dipasang di Danau Maninjau menunjukkan bahwa kandungan oksigen sampai kedalaman 5 meter kondisinya masih aman di 3 lokasi, pada satu lokasi mulai kedalaman 5 meter sudah kritis dan ini akan mengakibatkan kematian bila terjadi umbalan,” tandasnya.

Sumber : kkpnews.kkp.go.id