Jakarta –  Pemberantasan pencurian ikan secara ilegal (illegal fishing) di Indonesia selama kurang lebih 2 tahun, telah memberikan hasil yang nyata. Hal tersebut dikatakan oleh salah satu tim dari The Norwegia National Advisory Group Against Organized IUU Fishing saat ditemui di kantor KKP, Jakarta, Kamis (10/3).

“Pemberantasan illegal fishing di Indonesia sangat drastis. Ini menjadi contoh bagi dunia, Indonesia sudah fokus memberantas illegal fishing”, ujar salah satu dari anggota tim yang enggan disebut namanya.

Selain itu, dia menambahkan, isu-isu yang ada terungkap bukanlah soal illegal fishing. Namun banyak ditemukan tentang ijin dokumentasi yang disalahgunakan, perbudakan dan perdagangan manusia, serta tindakan kriminal lainnya seperti bongkar muat kapal di tengah laut (transhippment).

Dia juga menilai, penangkapan kapal KM Viking di perairan utara Berakit, Kepulauan Riau pada Kamis 25 Februari 2016 lalu, merupakan keseriusan pemerintah Indonesia dalam memberantas illegal fishing.

“Kasus KM Viking ini sama dengan kasus kapal MV Hi Fa yang sudah berganti-ganti bendera dan dokumen yang telah 13 ganti nama. Ini perlu investigasi khusus dalam penanganannya”, lanjutnya.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, salah satu kapal perang jajaran Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) yaitu KRI Sultan Thaha Saifudin-376, Kamis 25 Februari berhasil menangkap kapal FV Viking.

Penangkapan itu merupakan hasil kerjasama dengan ILO IFC Singapura perihal kapal FV Viking berbendera Nigeria yang menjadi target operasi interpol Norwegia telah memasuki perairan Indonesia.

Selanjutnya, Tim WFQR IV Koarmabar bekerjasama dengan Wing Udara 2, berhasil menemukan keberadaan kapal asing tersebut.

Seperti diketahui, dari informasi berdasarkan Purple Notice Interpol Norwegia, kapal tersebut sudah 13 kali ganti nama, 12 kali ganti bendera dan 8 kali ganti call sign.

Untuk modusnya kapal tersebut diduga melanggar hukum nasional dan peraturan serta konvensi internasional dan terlibat dalam penipuan yang berhubungan dengan kejahatan perikanan.  Kapal tersebut berhasil ditangkap KRI Sultan Thaha Saifudin-376 di 12.5 Nm perairan utara Berakit, Kepulauan Riau (Kepri).

Kapal dengan nakhoda Huan Venesa warga negara Chili dan diawaki oleh 11 ABK itu selanjutnya dikawal menuju Tanjung Uban.

Berita keberhasilan penangkapan kapal buruan interpol tersebut telah mendapat ucapan selamat dari Komandan Maritime Security Task Force (Komandan MSTF) di Singapura. Bahkan menteri KKP Susi Pujiastuti memerintahkan untuk segera mengevakuasi ABK dan segera dipersiapkan proses hukum untuk penenggelamannya.

Pada tanggal 5 Maret 2016 FV Viking dari Tanjung Uban, Kepri diberangkatkan ke Jakarta. Tanggal 7 Maret FV Fiking tiba dan lego jangkar di perairan Teluk Jakarta. Selanjutnya pada tanggal 8 Maret 2016, kapal tersebut sandar di Dermaga JICT, Tanjungpriok, Jakarta. Status kapal tersebut saat ini sudah diserahkan kepada Satgas 115 dan menunggu penetapan Pengadilan Negeri Tanjung Pinang guna proses penenggelaman.

Sumber : kkpnews.kkp.go.id