JAKARTA – Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli menyatakan, akan menjadikan Kepulauan Natuna sebagai pasar ikan terbesar di Asia Tenggara (ASEAN). Nantinya warga asing yang ingin membeli ikan bisa langsung datang ke wilayah barat Indonesia tersebut.

Sebelum itu terwujud, Rizal lebih dahulu akan memindahkan sekitar 400 nelayan Pantai Utara (Pantura) dengan ukuran kapal lebih dari 30 Gross Ton (GT) ke Natuna. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas penangkapan ikan yang saat ini masih 9,3% jadi 40%.

“Tadinya mereka (nelayan Pantura) enggak dapat tangkap ikan di wilayah gemuk, sekarang kapasitas tangkap 9,3% dari kapasitas lestari. Dengan ini akan naik jadi 40% dalam kurang dari setahun,” ujarnya di Jakarta, Rabu (13/7/2016).

Ikan tangkapan itu, kata Rizal, akan dijual ke kota-kota dan juga dibangun tempat penyimpanan. Sehingga, bisa mendukung keinginannya jadi pasar ikan terbesar se-ASEAN.

Sementara, lanjut dia, para nelayan Pantura ini juga diberikan rumah susun untuk tempat tinggal. Ditargetkan semua program di atas bisa rampung pada akhir Oktober tahun ini.

“Kita sediakan rumah susun dari nelayan pulau Jawa, nelayan besar Pantura yang pindah. Akhir Oktober kita targetkan selesai semua,” terangnya.

Di sisi lain, kata Rizal, Natuna dulu menjadi tempat favorit kapal asing pencuri ikan karena potensinya yang luar biasa. Dia tidak ingin kejadian itu kembali terulang dengan memanfaatkan nelayan lokal untuk menangkap ikan.

“Di Kepulauan Natuna banyak kapal asing pencuri ikan tadinya ikannya gemuk, bagus-bagus. Kami tak ingin kembali ke rezim lama kapal pencuri ikan masuk, kita ingin tingkatkan kapasitas nelayan tangkap ikan lebih banyak. Kita mau kembangkan resort premium juga, pantainya bagus bangun fasilitas tourism,” pungkasnya.