Prof.Dr.Ir. Rokhmin Dahuri, MS. Di tengah lesunya sektor-sektor ekonomi konvensional di daratan (seperti tekstil dan produk tekstil, elektronik, properti, sawit, batu bara, dan mineral) akibat perlambatan ekonomi global yang berdampak pada semakin menurunnya pendapatan negara (pajak dan PNBP), nilai ekspor, dan membludaknya pengangguran dan kemiskinan; sektor-sektor ekonomi kelautan mestinya menjadi ’penyelamat’ dari beragam masalah bangsa tersebut. Dalam khasanah pembangunan ekonomi, yang dimaksud ’penyelamat’ di sini adalah sektor-sektor ekonomi yang mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi tinggi (di atas 7 persen per tahun) yang inklusif (banyak menyerap tenaga kerja dan mensejahterakan rakyat) dan berkelanjutan (sustainable).

Potensi Marikultur

Salah satu sektor ekonomi kelautan yang berpeluang besar untuk menjadi ’penyelamat’ adalah sektor perikanan budidaya (aquaculture), khususnya  budidaya laut (mariculture).  Pasalnya, sebagai negara maritim dan kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai 95.181 km (terpanjang kedua di dunia setelah Kanada), Indonesia memiliki sekitar 24 juta ha wilayah perairan laut dangkal (coastal waters) yang cocok untuk usaha budidaya laut (marikultur) dengan potensi produksi lestari sekitar 45 juta ton/tahun (terbesar di dunia) dan nilai ekonomi langsung (on-farm) sekitar 90 miliar dolar AS per tahun.

Kalau setiap ha usaha budidaya laut memerlukan satu orang tenaga kerja, maka total lapangan kerja on-farm yang bisa disediakan sekitar 24 juta orang.  Belum lagi nilai ekonomi dan tenaga kerja yang bisa digerakkan oleh industri hulu dan industri hilir (backward-and forward-linkage industries) dari bisnis budidaya laut ini.

Sementara, tingkat produksi budidaya laut pada 2014 baru 9,4 juta ton (20 persen).  Artinya, dari sisi suplai, peluang bisnis budidaya laut masih sangat terbuka dan luar biasa besar. Perlu juga dicatat, bahwa marikultur bukan hanya menghasilkan protein hewani berupa ikan (seperti kerapu, baronang, kakap, bawal bintang, dan gobia); moluska (seperti gonggong, kerang, dan abalone); dan krustasea (seperti udang,  lobster, kepiting, dan rajungan). Tetapi, juga rumput laut, teripang, invertebrata, dan ribuan jenis organisme laut lainnya sebagai bahan baku (raw materials) untuk industri makanan dan minuman sehat, farmasi, kosmetik, cat, film, bioenergi, dan ratusan jenis industri lainnya.  Selain itu, marikultur juga bisa menghasilkan perhiasan yang sangat mahal seperti kerang mutiara.

Seiring dengan jumlah penduduk dunia yang terus bertambah dan meningkatnya kesadaran umat manusia tentang gizi ikan dan seafood yang lebih sehat dan mencerdaskan, maka permintaan (pasar) bagi sejumlah komoditas dan produk marikutur tersebut juga diyakini bakal terus membesar.   Selain itu, dari sisi penggunaan pakan, sistem produksi ikan budidaya enam kali lebih efisien ketimbang sistem produksi daging sapi (FAO, 2015).  Karenanya, sangat logis bahwa dalam dua dekade terakhir, akuakultur merupakan sektor pangan dengan laju pertumbuhan tertingg dan tercepat di dunia.

Dampak Positif

Teknologi produksi perikanan budidaya itu relatif mudah dan kebanyakan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia sudah terbiasa dengan usaha budidaya laut. Modal investasi dan modal kerja yang dibutuhkan juga relatif kecil.

Jika dikerjakan secara profesional dan penuh ketekunan mengikuti Best Aquaculture Practices (Tata Cara Perikanan Budidaya Yang Terbaik) dan ramah lingkungan, usaha akuakultur dapat menghasilkan keuntungan yang besar (lucrative) dan mensejahterakan rakyat, khsususnya pelaku usahanya secara berkelanjutan.  Lebih dari itu, pembangunan dan bisnis akuakultur akan secara signifikan membantu bangsa ini bukan saja akan mampu berswasembada pangan, farmasi, kosmetik, dan bioenergi, tetapi juga menjadi pengekspor utama keempat jenis produk yang dibutuhkan umat manusia se jagat raya.

Karena usaha budidaya laut hampir semuanya berlokasi di wilayah-wilayah pesisir, pulau-pulau kecil, dan wilayah perbatasan, maka pembangunan dan bisnis marikultur akan membangkitkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran baru di luar Jawa yang menyebar di seluruh wilayah NKRI.  Dengan demikian, masalah utama bangsa yang lainnya,  yakni disparitas pembangunan antar wilayah yang sangat timpang, dimana Pulau Jawa yang luasnya hanya 5,5 % total luas wilayah Indonesia dan menyumbangkan 60 % terhadap perekonomian nasional (PDB) juga bakal lebih baik.

 

Sumber : http://aquaculture-mai.org