Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus dorong ketahanan pangan nasional, salah satunya melalui program mina padi. Keunggulan dari budidaya mina padi ini, disamping meningkatkan pendapatan petani juga mampu memberikan keuntungan dari segi penyediaan sumber bahan pokok utama pangan yaitu karbohidrat dari padai dan protein dari ikan. “Budidaya mina padi merupakan konsep bisnis yang dikembangkan untuk menjawab tantangan system ekonomi dunia saat ini, yang cenderung eksplotatif dan merusak lingkungan. Dengan minapadi, penggunaan pestisida dapat dihindari, penggunaan pupuk kimia berkurang signifikan, pendapatan yang lebih tinggi”, demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto di Sleman – DI. Yogyakarta.

Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangkaian pertemuan The 2nd International Symposium on Fisheries Crime 2016 di Yogyakarta ini, juga ingin menyampaikan bahwa perikanan budidaya yang berkelanjutan dan berkeadilan mampu meningkatkan ksejahteraan para pelaku usahanya dalam hal ini petani. “Sebagai contoh adalah budidaya mina padi di Dusun Cibuk Kidul, Desa Margoluwih, Kec. Sayegan. Produksi padi meningkat 10 – 20 % dari semula hanya 7 – 8 ton/ha/MT, menjadi 8 – 9 ton/ha/MT. Ditambah lagi produksi ikan sebanyak 3 – 5 ton/ha/MT. Ini setara dengan penambahan penghasilan sebesar 1.700 dollar AS atau Rp. 22 juta per ha per musim tanam. Sungguh hasil yang luar biasa dari budidaya yang berkelanjutan dan ramah lingkungan”, papar Slamet.

Percontohan budidaya Mina Padi pada tahun 2015, yang dilakukan FAO bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Kab. Sleman, pada awalnya hanya seluas 25 ha. “Kemudian dari KKP juga mengalokasikan Dana Tugas Pembantuan (TP) Kab. Sleman, untuk budidaya mina padi di lahan seluas 25 ha. Pada tahun 2016, sudah berkembang menjadi 102 ha, karena masyarakat telah mengembangkan lahan budidaya mina padi seluas 52 ha, secara swadaya. Ini bukti bahwa percontohan yang dilakukan memberikan dampak positif bagi masyarakat”, terang Slamet.

Keberhasilan mina padi ini pun sangat mengundang minat negara lain untuk mencontoh, antara lain stakeholder pertanian dan perikanan dari Laos dan Filipina. Maka untuk menularkan ilmu mina padi Indonesia ke negara lain, KKP dan FAO telah melakukan lokakarya dan tinjau lapangan mina padi di Jawa Tengah dan Yogyakarta pada bulan September 2016 lalu.

Perkembangan budidaya mina padi juga semakin luas dengan adanya inovasi teknologi menggunakan jenis ikan yang beragam. “Budidaya minapadi dengan udang galah (UGADI), padi dengan Nila (LADI), padi dengan lele (LeDi), padi dengan Udang Galah dan Gurame (UGAMEDI) dan juga padi dengan Udang Galah dan Koi (UGAKODI), telah memberikan keuntungan dan peningkatan pendapatan bagi petani, tanpa mengurangi produktivitas padi. Ini adalah wujud kerjasama lintas sektoral antara pertanian dengan perikanan, dalam meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. Kemandirian budidaya mina padi semakin terwujud apabila selama budidayanya menggunakan pakan ikan mandiri”, jelas Slamet.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya atas nama Menteri Kelautan dan Perikanan, menyerahkan bantuan sebanyak 5 (lima) ton pakan ikan mandiri dan 5 (lima) juta ekor benih nila kepada sepuluh pembudidaya ikan di Kabupaten Sleman, yang merupakan produksi Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Disamping itu, diserahkan pula bantuan ikan segar sebanyak 15,5 ton kepada 12 Pondok Pesantren, 86 Panti Asuhan, 21 Panti Jompo dan 35 Lembaga Sosial. Bantuan ikan segar ini diserahkan oleh Dirjen Peningkatan Daya Saing KKP, dalam upaya untuk meningkatkan konsumsi ikan di DI. Yogyakarta.

 

Sumber : djpb.kkp.go.id