Saat ini perikanan budidaya memiliki nilai trend kenaikan yang cukup signifikan. Beberapa tahun belakangan ini, pemerintah mulai focus menggenjot nilai produksi melalui sector ini, dengan berbagai program prioritas seperti gerakan pakan ikan mandiri (gerpari), bantuan benih 100 juta ekor, revitalisasi Karamba Jaring Apung dan program lainnya. Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya yang memiliki tugas pokok dan fungsi diantaranya sebagai penghasil benih ikan laut yang bernilai ekonomis khususnya di wilayah timur Indonesia memiliki peranan penting dalam menyokong ketersediaan benih untuk kegiatan budidaya di masyarakat. Selain hal tersebut BPBL Ambon juga menjadi lokasi untuk mengkaji setiap permasalahan teknis yang mungkin timbul dari aktivitas budidaya laut, sehingga memungkinkan data dari kajian yang diperoleh menjadi solusi terbaik dan mampu di aplikasikan oleh pembudidaya secara luas.

Salah satu permasalahan yang sering timbul dari suatu kegiatan budidaya adalah masalah penyakit ikan. Sakit adalah suatu kondisi dimana ikan menunjukan gejala ketidakseimbangan fungsi fisiologis yang disebabkan oleh factor internal maupun eksternal.

Factor eksternal penyebab sakit pada ikan antara lain lingkungan dan pathogen. Lingkungan dalam hal ini kualitas media pemeliharaan memiliki hubungan yang sangat erat dengan inventarisasi pathogen. Kondisi lingkungan yang jelek akan sangat mendukung ikan mudah terserang suatu penyakit.

Salah satu penyakit yang sering kali menjadi momok bagi pembudidaya khususnya budidaya laut adalah VNN (Viral Nervous Necrosis) pada beberapa komoditas laut seperti kerapu (Grouper), dan Kakap putih (Baramundi). Ikan ini merupakan ikan ekonomis penting yang bernilai tinggi di pasaran local maupun internasional. Kematian ikan menjadi hal yang paling ditakuti pembudidaya karena dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar.

Untuk mencoba mengatasi permasalahan yang timbul akibat VNN ini, dilakukan beberapa kajian terkait spesifikasi atau karakteristik VNN itu sendiri, hal ini dilakukan guna mengetahui upaya terbaik dalam mengendalikan infeksi VNN. Satu kajian tentang factor pembatas, perlakuan suhu air dilakukan oleh seorang petugas teknis di Laboratorium Keskanling BPBL Ambon. Evri Noerbaeti mencoba melakukan suatu kajian peningkatan suhu terhadap keragaan betanodavirus pada organ ikan yang terinfeksi RGNNV.

            Dalam kajiannya evri mengutip pernyataan beberapa ahli yang mengatakan Betanodavirus adalah agen penyebab serangan viral nervous necrosis (VNN) pada ikan laut, yaitu suatu penyakit yang menghancurkan industri budidaya ikan laut di seluruh dunia (Chi, 2006). Betanodavirus sangat tahan dalam lingkungan perairan dan dapat bertahan untuk waktu yang lama di dalam air laut pada suhu rendah, sehingga air merupakan salah satu penyebab dari infeksi VNN yang terjadi pada suatu populasi ikan budidaya. Cara kerja dari kajian ini adalah memberikan perlakuan pemanasan suhu air setelah hasil analisis PCR menunjukkan ikan uji telah positif VNN. Ikan uji dibagi atas 3 kelompok dan dipelihara pada akuarium kemudian diberi perlakuan pemanasan suhu air yaitu masing-masing 37oC, 39oC dan 41oC. Proses pemanasan air dilakukan  selama 1 jam kemudian dikondisikan pada suhu air normal 28oC. Perlakuan ini  diulangi selama 7 hari berturut-turut, paparnya.

Pada akhir kajian Evri menunjukan bahwa pemanasan suhu air hingga 39oC selama 1 jam dan diulang selama 7 hari berturut-turut mampu mengendalikan kepadatan virus Betanodavirus pada organ sirip, mata dan hati  ikan yang terinfeksi RGNNV. Dari hasil kajian tersebut dapat diperoleh suatu pemahaman bahwa suhu merupakan factor pembatas bagi perkembangan pathogen suatu penyakit dan tentunya mempermudah dalam melakukan manajemen kesehatan ikan budidaya.            

Hasil kajian tersebut dapat dengan mudah diaplikasikan oleh masyarakat pembudidaya tentunya dengan ketentuan teknis yang memadai. Data yang diperoleh dari kajian kajian yang dilakukan diharapkan mampu memberikan solusi yang paling efisien guna menekan kerugian akibat kematian ikan budidaya yang pada akhirnya berdampak pada naiknya nilai pendapatan dan kesejahteraan pembudidaya.

 

==DNR== Humas BPBL Ambon